Values to Culture

528 views

#serikepemimpinan4

Kita sudah mengenal visi, misi, bahkan model kepemimpinan transaksional dan transformasional dari tulisan sebelumnya, namun perlu dipahami bahwa hal-hal tersebut hanya berkisar ditataran tampak luar organisasi, belum melingkupi hal-hal yang dipegang oleh setiap individu dalam organisasi. Kita mungkin mengenal beberapa organisasi yang secara visi-misi tergarap dengan baik, namun tak lama kemudian organisasi tersebut mulai kehilangan anggotanya satu persatu hingga kemudian tiada. Menurunkan yang abstrak, organisasi, pada yang riil, setiap individu dalam organisasi, maka pada titik ini pembahasan beralih pada apa yang disebut dengan values dan culture.

Values

Secara bahasa berarti nilai. Mudahnya, values adalah tipe nilai yang dipegang oleh setiap individu, atau tipe nilai yang dibentuk oleh organisasi untuk kemudian dijadikan sebagai sistem nilai yang mengikat setiap individu dalam organisasi tersebut. Karena itulah, seseorang yang semaunya dan susah diatur akan menjadi mustahil untuk diterima di sebuah organisasi yang disiplin, cenderung stabil, dan instruksionalis semisal AKABRI, STPDN, STAN, dan lainnya. Sebaliknya, seseorang yang mendefinisikan keinginannya adalah apa yang diinginkan oleh yang lain, tidak merasa penting untuk selalu mengungkapkan perasaan, cenderung mengalir akan sangat susah untuk survive di sekolah seni dan semisalnya yang cenderung ekspresif.

Dari sini dapat dipahami bahwa seseorang yang kemudian memasuki sebuah organisasi mendapati dua sistem nilai yang perlu untuk dikomunikasikan dengan baik; sistem nilai pribadi yang dibentuk oleh keluarga dan lingkungan, dan sistem nilai organisasi. Bagi organisasi profesi atau beberapa yang bersifat tertutup akan mudah untuk mengeksekusi setiap sistem nilai yang dipandang tidak cocok atau bentangannya terlalu jauh, semisal anak yang semaunya sendiri dengan sistem nilai yang berlaku di militer. Namun bagi beberapa organisasi yang lebih terbuka, semisal organisasi pendidikan dan sosial, maka penting bagi mereka untuk kemudian menciptakan nilai organisasi yang lebih terbuka dan dapat menerima semua.

Jika sebuah organisasi telah lama berdiri kita bisa melihatnya dari tagline yang biasanya dipampang beriringan dengan visi-misi organisasi, atau hanya nama organisasi dan taglinenya. Pada beberapa organisasi disebutkan dengan jelas nilai-nilai yang dipegang dalam Anggaran Dasarnya, pada yang lain benar-benar tidak terdefinisikan karena dianggap bukan hal yang penting. Pengetahuan akan nilai ini penting untuk memperkirakan tipologi orang yang bisa bertahan dalam organisasi, atau bahkan bisa langsung tancap gas meskipun ia tergolong orang baru dalam organisasi. Pengetahuan akan sistem nilai yang berlaku pada individu inilah yang menjadi prioritas kerja utama dari test psikologi, interviewer lowongan kerja, dan kerja lainnya yang berhubungan dengan memasukkan individu baru ke dalam organsisasi.

Bagi organisasi baru, ada banyak cara untuk menerjemahkan nilai yang nantinya menjadi nilai organisasi. Salah satu yang paling utama adalah melakukan depth interview kepada pendiri dan stakeholder lainnya yang kemudian dari hasil depth interview ini kita lakukan semacam focus group discussion untuk menyepakati sistem nilai apa yang nanti berlaku dalam organisasi tersebut.

Pembanding dari pembicaraan akan penciptaan nilai adalah beberapa tulisan sebelum ini: visi, misi, dan pola kepemimpinan yang disepakati, sehingga tidak muncul nilai yang mengakomodir perilaku semaunya dalam sebuah organisasi yang instruksionalis semisal organisasi militer dan para-militer, atau ingin membuat komunitas seni namun menyepakati disiplin dan keterukuran menjadi nilai inti.

Culture

Kumpulan nilai-nilai yang telah diterjemahkan dan diidentifikasi sebagai nilai organisasi dan mampu diaplikasikan secara konsisten dan alamiah biasa disebut sebagai budaya organisasi. Beberapa organisasi modern telah mengikatkan sistem nilai yang telah membudaya pada strategi organisasi karena mereka memandang bahwa setiap organisasi itu unik dengan dipenuhi dengan individu-individu yang juga unik. Keunikan ini menurut mereka dapat menjadi modal utama untuk memiliki competitive advantage, keunggulan kompetitif.

Organisasi manapun akan mampu membeli peralatan yang sama atau bahkan lebih baik dari apa yang dimiliki oleh organisasi kita, pada beberapa kejadian bahkan membeli orang dari organisasi kita untuk kemudian mengimbangi bahkan melampaui organisasi kita, namun selamanya akan sulit untuk meniru setiap proses yang ada didalam sebuah organisasi tanpa memahami betul sistem nilai yang telah membudaya yang berlaku dalam organisasi tersebut.

Pada proses pembentukan budaya, sistem nilai yang telah disepakati ini ditransmisikan ke dalam setiap organ dalam organisasi sehingga setiap individu tahu betul sikap apa yang harus mereka tunjukkan dalam setiap kerja harian mereka sehingga pada satu titik pengetahuan individual ini menyeluruh pada setiap individu dalam organisasi yang diistilahkan sebagai pengetahuan organisasi.

Pengetahuan organisasi ini menjadi penting untuk segera diciptakan, selaras dengan pengetahuan akan sistem nilai, agar setiap individu dalam organisasi tahu betul apa yang sedang mereka lakukan, tahu betul mereka menuju kemana dan tahu betul bagaimana mereka seharusnya bersikap.

Secara singkat proses pembentukan budaya organisasi melalui beberapa tahapan: penerjemahan nilai, transmisi nilai pada tiap-tiap individu dalam organisasi, pengetahuan organisasi, konsisten mengaplikasikan pengetahuan organisasi, dan lalu menjadi apa yang disebut sebagai budaya organisasi.


Comments

Leave a Reply