Transactional Leadership Vs Transformational Leadership

1,131 views

#serikepemimpinan3

Seseorang yang terlalu fokus pada hasrat untuk menjadi sukses, menjadi yang terbaik, dan bahkan manusia sempurna, terkadang melupakan bahwa kesuksesan mengorbankan waktu bercengkerama dengan keluarga. Menjadi yang terbaik seringnya menjadikan kita jumawa dan menganggap yang lain tiada, dan bermimpi menjadi manusia sempurna malah menjauhkan diri dari kemanusiaan itu sendiri. Karena itulah, hati-hati dalam bermimpi. Jangan-jangan impian kita malah membuat kita tak lagi mampu bermimpi.

Kita sudah membicarakan tentang visi dan misi, tentang impian dan apa yang mendefinisikan diri. Penting untuk mendefinisikan organisasi kita melalui ekspresi-ekspresi yang mewakili pendefinisian organisasi tersebut, semisal sekolah ya harus ada pembelajaran, padepokan silat ya harus ada latihan silat, dan seterusnya. Penting juga bermimpi, karena mimpi membedakan kita dengan hewan dan tumbuhan, karena mimpi mampu menggerakkan kita untuk bergerak melebihi yang lain. Pendefinisian diri menjadi domain misi organisasi, sedangkan impian menjadi domain visi organisasi.

Dalam praktiknya, prioritas pemimpin terkadang menjadi berbeda antara yang menitikberatkan pada pencapaian impian dan yang menekankan pada apa yang seharusnya ia maksimalkan sekarang. Perbedaan prioritasi ini memunculkan tipologi transactional leadership dan transformational leadership.

Transformational Leadership

Kepemimpinan transformasional adalah model kepemimpinan yang fokus pada pencapaian visi. Ia adalah sosok pemimpin yang memiliki pandangan jauh ke depan dengan basis pijakan apa yang organisasi lakukan sekarang. Ia mampu mengukur apa yang relevan dan tidak relevan untuk dilakukan pada saat ini dengan dibandingkan dengan apa yang ingin ia capai di masa depan. Ia tidak akan segan-segan untuk merubah pergerakan organisasi sesuai dengan apa yang ia atau organisasi impikan.

Seseorang yang bertipe pemimpin transformasional fokus awalnya adalah mengembangkan visi. Ia akan berusaha untuk mengekstrak impian dari kepala masing-masing stakeholder, mensolidkan impian tersebut, dan mengkomunikasikannya kepada setiap individu di organisasi.

Kemampuan memahami setiap individu di dalam organsasi dan kemampuan menerjemahkan apa yang ada di hati dan kepala masing-masing stakeholder menjadi skill wajib bagi pemimpin bertipe ini. Karena dua kerja utama ini, pemimpin transformasional hanya cocok untuk sebuah organisasi kecil atau sebuah organisasi besar yang bisa dikecilkan, dengan kategorisasi berbasis spesifikasi kerja, kedekatan, atau yang lain sehingga seorang pemimpin hanya cukup berkomunikasi dengan wakil dari masing-masing kategorisasi ini.

Transactional Leadership

Ini adalah tipe kepemimpinan yang fokus pada apa yang ada dan memastikan yang ada itu dapat berjalan dengan baik. Prioritas kerja pemimpin transaksional adalah menjalinkan performa kerja individu pada reward. Ia akan memastikan bahwa pekerjanya memiliki hal-hal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya, karena itulah tipe kepemimpinan model ini menjadikan penyelarasan kinerja dan tujuan setiap bidang kerja dan masing-masing individu dengan strategi menjadi kerja utamanya.

Tipe kepemimpinan transaksional sangat efektif digunakan untuk sebuah organisasi dengan anggota atau karyawan yang besar. Transactional leadership dengan rewardnya menjadikan ia dapat dengan efektif dijalankan pada organisasi dengan basis massa yang banyak. Meski manusia di dalam organisasi sangat heterogen, namun dengan reward yang jelas menjadikan manusia-manusia yang banyak ini dapat dinilai dengan obyektif dan berterima oleh setiap individu dalam organisasi tersebut.

Pemimpin transformasional dalam praktiknya diistilahkan sebagai leader, karena ia memimpin organisasi dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Sedangkan pemimpin transaksional lebih disebut sebaga manajer karena ia fokus mengatur apa yang ada dihadapannya agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Pilihan-pilihan tipologi kepemimpinan ini sangat bergantung pada kecenderungan diri, konteks organisasi, kemampuan bermimpi, dan gap antara apa yang sebenarnya kita inginkan dengan realita. Ketidakmampuan mendefinisikan 4 hal tersebut akan menjadikan pergerakan kita hanya berdasarkan insting dan selalu diombang-ambingkan oleh keadaan.


Comments

Leave a Reply