The Chosen One

476 views

#serikepemimpinan2

Pada suatu masa dalam hidup kita, tiba-tiba kita terpilih untuk menjadi ketua dalam sebuah organisasi, menjadi yang terpilih dari sekian banyak mahasiswa yang mendapat beasiswa, menjadi suami, atau bahkan istri. Apapun itu, momen merasa menjadi yang terpilih akan selalu dimiliki oleh siapapun. Tentu dalam momen keterpilihan ini kita selalu ingin berbuat semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan, agar menjadi yang selalu dikenang, dan lainnya. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu mengingat tiplogi Rajul (manusia sempurna dengan menetapi kemanusiaannya) Syaikh Zarnuji dalam Kitab Ta’lim al-Muta’alim. Beliau membagi Rajul menjadi tiga: Rajul, Nishfu Rajul, dan La Syai’a.

Rajul adalah seseorang yang mampu berpikir mandiri dan teruji kebenarannya namun masih mau bermusyawarah dengan yang lain, membuka diri pada setiap usulan. Nishfu Rajul adalah seseorang yang mampu berpikir mandiri dan teruji kebenarannya namun tidak mau bermusyawarah dengan yang lain, atau mau bermusyawarah namun ia menutup diri dari setiap pendapat. Sedangkan La Syai’a adalah ia yang tidak mampu berpikir mandiri dan tidak teruji kebenarannya, dan meski menyadari ketidakmampuannya itu ia tidak juga mau bertanya kepada yang lain, tidak mau meminta pendapat dari yang lain. Tentu menjadi Rajul adalah prioritas, namun apa yang perlu dipikirkan dan dimintakan pendapat dalam momen keterpilihan di atas menjadi lain soal.

Building a Mission

Jika yang kalian pimpin adalah sebuah organisasi yang sudah berjalan sebelumnya, maka kerjamu menjadi agak mudah. Kalian tinggal menanyakan kepada ketua dan pengurus harian sebelumnya tentang apa-apa yang dilakukan oleh mereka ketika masih aktif menjadi pengurus. Kalian catat dan perhatikan baik-baik apa yang mereka lakukan selama ini, apa yang mereka inginkan dan sukses mereka eksekusi menjadi sebuah kegiatan, apa yang mereka masih belum maksimal, dan lainnya. Pada titik ini, kalian sudah memiliki misi.

Misi adalah sesuatu yang rutin dilakukan sebuah organisasi. Sebuah kerja harian yang ketika organisasi tersebut tidak lagi melakukannya maka keberadaan organisasi tersebut sama saja dengan ketiadaannya. Sebuah perguruan pencak silat ketika tidak lagi pernah terlihat ada latihan meski masih aktif ngopi bareng dan kegiatan di luar latihan lainnya, maka secara organisasi ketiadaan latihan sama saja dengan bubar. Begitu juga dengan sekolah tanpa kegiatan belajar-mengajar, jam’iyah dzikir tanpa kegiatan jama’ah dzikir, atau bahkan rumah tangga tanpa adanya kegiatan “kerumahtanggaan”.

Memiliki misi menjadi penting. Karena tanpa misi maka tak ada yang dinamakan organisasi. Untuk sebuah organisasi yang sudah berjalan sebelumnya, pelajari dari apa yang telah dilakukan oleh pengurus sebelumnya. Bagi sebuah keluarga yang sudah memiliki menantu sebelum dirimu, bertanya dan belajarlah dari menantu sebelum kalian. Apapun konteksnya, jika sudah ada contoh sebelumnya maka belajarlah dari mereka.

Jika organisasimu benar-benar baru atau keluarga mertuamu sama sekali belum berpengalaman memiliki menantu, maka belajarlah pada organisasi atau pengalaman orang lain menjadi pengurus dari organisasi yang mirip atau pengalaman menjadi menantu dari konteks keluarga yang mirip dengan keluarga mertua kalian.

Misal kalian diangkat menjadi kepala sekolah sebuah sekolah dasar tahfidh, maka belajarlah pada kepala sekolah sebuah sekolah dasar tahfidh. Jika ternyata sekolahmu terlalu unik karena, misalnya, penggabungan antara dua variable, sekolah dasar dan tahfid, menjadi satu-satunya didaerahmu maka kemampuan menjalin pengetahuan menjadi penentu. Dirimu harus belajar pada kepala sekolah dasar dan belajar pula pada institusi pendidikan yang menaungi program tahfidh. Dari pengetahuan ini, lalu kalian jalinkan dengan pemahaman konteks daerah sekitar sekolah berdiri, apa yang kalian mampu-tidak mampu, dan apa yang kalian bisa menjadi misi dari organisasi kalian. Misi yang bisa kalian jalankan, menjadi distingsi, dan mendefinisikan organisasi.

Having Vision

Banyak organisasi bertahan dengan hanya menerjemahkan misinya, menerjemahkan apa yang harus ia lakukan dalam kerja hariannya. Mereka tidak perlu bermimpi ke depan akan menjadi apa. Mereka hanya perlu melakukan apa yang menjadi misinya dan mengikuti dengan baik setiap arahan dari institusi diatasnya maka hidupnya dianggap selesai. Bermimpi menjadi sesuatu yang mahal bagi sebagian diri.

Bagi beberapa yang progresif, menciptakan impian menjadi esensial. Hanya melakukan kerja harian tanpa sadar betul apa yang sebenarnya dikerjakan dan di ujung akan mengarah kemana dianggap sebagian diri telah kehilangan kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti mesin, hanya bergerak tanpa menimbang dan memiliki inisiatif.

Dari perspektif manajemen, impian disebut visi. Ia paling tidak di bangun dari eksistensi impian, esensi tindakan, dan batasan waktu. Bagi sebuah sekolah yang telah menerjemahkan misinya dan sadar betul distingsi, pembeda, antara sekolah yang ia pegang dengan sekolah lainnya, maka paling tidak ia sudah memiliki gambaran sukses kedepannya akan menjadi apa. Namun gambaran sukses ini akan menjadi utopis ketika tidak dipahami oleh seluruh elemen sekolah dan tidak jelas pengukurannya.

“Pada 2040, menjadi sekolah dasar tahfidh terkemuka di Jawa Timur melalui penerapan Best Service Excellent dan Sukses Akademik-Sukses Tahfidh.” Best Service Excellent dan Sukses Akademik-Sukses Tahfidh merupakan sebuah program sekolah dasar tersebut yang menjadi berbeda dari sekolah dasar lainnya. Tanpa dua program ini maka sekolah dasar tersebut menjadi “sama” dengan sekolah yang lain, sama-sama di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan daerah dimana sekolah tersebut berada dengan segala aturan yang harus dipatuhi.

Dua program andalan ini harus benar-benar dapat dijalankan dan terukur sehingga klaim pencapaian tidak muncul dari kehampaan. Pastikan organisasi kalian memiliki distingsi yang kuat yang ketika ini terus dilakukan akan menjadi ciri khas dari organisasi tersebut.

Menjadi “terkemuka di Jawa Timur” membutuhkan pembacaan peta sekolah-sekolah di Jawa Timur: nama-nama sekolah terbaik, apa yang menjadikan mereka dianggap menjadi sekolah terbaik, apa penunjang eksternal yang menjadikan mereka menjadi sekolah terbaik, dan lainnya. Setelah kita mendapatkan data ini maka kita bisa menentukan target pencapaian yang paling lama harus dicapai 20 tahun. Kalau lebih dari ini, dikhawatirkan menjadi tidak terukur dan mudah dilupakan. Rentang pencapaian 20 tahun ini dapat diterjemahkan menjadi beberapa target pencapaian dalam kurun 5 tahunan, 4 tahunan, 2 tahunan, atau apapun yang dipandang cocok.

Kalian sudah memiliki misi dan visi. Asumsinya kalian sudah mampu memenuhi ekspektasi dari menjadi sosok yang terpilih dengan semestinya.


Comments

Leave a Reply