SIAPAKAH TETANGGA? (Edisi Terakhir Serial Akhlak Bertetangga)

626 views

Oleh Moh. Makmun

Akhirnya tibalah pada edisi terakhir serial Akhlak Bertetangga. Kali ini kita akan bahas terkait siapa sebenarnya yang disebut tetangga?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian tetangga ada dua, pertama adalah orang (rumah) yang rumahnya berdekatan atau sebelah-menyebelah; jiran; kedua, orang yang tempat tinggalnya (rumahnya) berdekatan.

Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri) dari rumah kita.

Sedangkan menurut ulama Malikiyah, dikatakan tetangga jika berdempatan, dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (tradisi) walau tidak memakai batasan tadi.

Adapun menurut Imam Abu Hanifah, mereka yang disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid.

Ada pula yang berpendapat bahwa tetangga adalah orang-orang yang shalat subuh bersamamu, ada lagi yang mensyaratkan 40 rumah dari setiap sisi dari rumah kita, sebagian lagi mengatakan 40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi dan beberapa pendapat lainnya.

Apapun definisi tetangga, yang pasti tetangga ada siapapun yang berada di sekitar kita. Jika kaitannya rumah berarti mereka tetangga rumah, jika berada di tempat kerja, berarti mereka juga menjadi tetangga kita dalam bekerja.

Setelah kita ketahui definisi tetangga, tentu kita harus mengetahui jenis-jenis atau kriteria tetangga. Sebab berdasarkan kriteria inilah nantinya terdapat hak dan kewajiban dalam bertetangga.

At-Thabrani meriwayatkan dari Jabir r.a., dari Nabi Muhammad Saw. bersabda:


الجيران ثلاثة : جار له حق ، وهو المشرك : له حق الجوار ، وجار له حقان ، وهو المسلم : له حق الجوار وحق الإسلام ، وجار له ثلاثة حقوق جار مسلم له رحم ، له حق الجوار ، والإسلام ، والرح

“Tetangga itu ada tiga macam: tetangga yang hanya memiliki satu hak, yaitu orang musyrik, ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang muslim: ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga, muslim memiliki hubungan kerabat; ia memiliki hak tetangga, hak Islam dan hak silaturrahim.”

Berdasarkan hadis tersebut, siapapun tetangga kita, apapaun agamanya, apapun warna kulitnya, mereka memiliki hak untuk dapat hidup tenang dan damai dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Hak mereka sama dengan hak kita.

Dengan demikian, tetangga ada tiga jenis, pertama tetangga non-Muslim. Mereka memiliki satu hak, yaitu hak bertetangga. Kedua, tetangga muslim. Mereka ini memiliki dua hak, yaitu hak bertetangga dan hak sesama muslim. Ketiga, tetangga muslim yang masih ada ikatan saudara. Mereka ini memiliki tiga hak, yaitu hak bertetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.

Tetangga menjadi salah satu kriteria penyebab kebahagiaan manusia, sebagaimana pesan Rasulullah Saw.,:


مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ

“Di antara ketenangan seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih (baik) dan kendaraan yang nyaman.”

Tak heran, kemudian muncul sebuah adagium yang berbunyi: الجار قبل الدار “Tetangga sebelum rumah”. Artinya, sebelum membangun atau membeli rumah, faktor pertama dan utama yang dilihat adalah tetangga. Apakah tetangga disekitar tersebut adalah komunitas orang baik atau tidak. Jadi bukan yang dilihat harga tanah atau rumahnya, atau bentuk rumahnya, melainkan lihatlah komunitas sosialnya, sebab hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas kehidupan seseorang dan anaknya.

Banyak anak-anak yang lahir dari orang tua yang baik-baik, namun tumbuh menjadi kurang baik lantaran terkena pengaruh faktor lingkungan atau tetangga.

Mari kita ciptakan lingkungan kita sebagai lingkungan yang baik, menjadi komunitas yang berkualitas dengan cara tidak menyakiti tetangga dan saling menghormati tetangga kita.


Comments

Leave a Reply