Perawat, Ibu yang Santri

289 views

Santri insipiratif kita kali ini adalah Nor Za’idah Asy’ariyah. Kelahiran Sidoarjo 2 November 1992 ini mengawali Pendidikan agamanya melalui “tempat ngaji” yang berjarak sekitar 100 langkah dari rumahnya yang diasuh langsung oleh Almaghfurlah Nyai Chudzaifah Chamzah, istri dari Allahu Yarham RKH. Sholeh Qosim. Dari Nyai Chudzaifah, Za’idah kecil belajar membaca turutan hingga Al-Qur’an, membaca pegon kitab Safinatun Najah, hingga perihal permasalahan kewanitaan. Hampir semua anak putri Ngelom dan sekitarnya belajar pada beliau di masa itu.

Ketika SMP ia mulai mengikuti diniyah di Pesantren Bahauddin Khos Al-Ismailiyah, berjarak kurang lebih 500 langkah dari rumahnya, yang diasuh oleh putra-putra Allahu Yarham RKH. Sholeh Qosim secara kolektif, seperti KH. Abdul Mun’im Sholeh, K. Ahmad Jazuli Sholeh, K. Syihabudin Sholeh, dan K. Abdul Haq Ahmad. Dalam hal Pendidikan agama, membicarakan ibu satu anak ini cukup diwakili satu kata, Ngelom.

Dalam hal Pendidikan formal, tidak ada yang terlihat dari sosok ini kecuali prestasi. Sejak di bangku Pendidikan Dasar, ibu dari Hasyim Ahmad Dliyaulhaq ini tidak pernah tidak berada peringkat satu. Baik antar teman dalam satu kelas, maupun antar satu angkatannya. Bahkan ketika di bangku kuliah, ia menjadi mawapres dua tahun berturut-turut dan menjadi salah satu  lulusan terbaik Angkatan 2010 Prodi S1 Keperawatan Universitas Airlangga. Dan kini, selain sebagai ibu rumah tangga yang sedang berjibaku dalam mendidik anak semata wayangnya, ia mendedikaskan dirinya di Rumah Sakit Universitas Airlangga sebagai perawat NICU. Apa itu NICU? Ada baiknya kita perhatikan pendeskripsian sosok inspiratif kita kali ini.

Apa yang muncul pertama kali di kepala ketika disebut kata NICU? Tidak banyak orang tau apa itu NICU. Namanya yang jarang disebut sudah cukup menggambarkan betapa spesialnya ruang ini. NICU atau Neonatal Intensive Care Unit adalah ruang perawatan intensive khusus di rumah sakit tertentu yang menangani bayi baru lahir hingga usia 28 hari dengan kondisi sakit dengan peralatan medis yang “tidak biasa”. Mengapa di rumah sakit tertentu? Mengapa tidak semua tempat pelayanan kesehatan terdapat ruang NICU?  Rumah sakit berlabel Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Bersalin (RSB) belum tentu terdapat ruang NICU.  Alasan paling sederhana adalah karena NICU membutuhkan ruangan khusus, alat-alat medis canggih yang “tidak umum”, sumber daya manusia yang sudah terlatih, terbiasa, ahli dalam merawat pasien-pasien mungil dan terlahir istimewa.

Ruang NICU ditakdirkan tidak pernah sepi dari denting alat alat medis canggih yang bekerja 24 jam 7 hari tiada henti untuk men-support bayi-bayi mungil ini untuk tetap bertahan hidup. Setiap hari selalu ada saja keajaiban-keajaiban muncul, rapalan doa ayah-bunda untuk buah cinta mereka yang sedang berjuang antara hidup dan mati, perawat yang menjaga dan merawat 24 jam 7 hari tiada henti, menggantikan sementara tugas seorang ibu melahirkan yang mempunyai bayi lucu menggemaskan. Bedanya, bayi di NICU terlahir lemah, tidak berdaya, tidak mampu bernafas dengan paru-parunya sendiri. Rerata kasus terbesar bayi yang dirawat di NICU adalah bayi yang qodarullah lahir sebelum waktunya atau biasa kita kenal dengan istilah premature. Yah, organ organ vital di dalam tubuhnya belum siap untuk bekerja secara sempurna, paru-parunya belum cukup matang untuk mampu mengembang secara optimal, jantungnya belum cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh.  Tidak hanya bayi premature, di NICU pun terdapat bayi-bayi yang qodarullah dia harus lahir dengan kelainan bawaan dari dalam kandungan. Ada juga yang aterm (cukup bulan) tetapi pada proses persalinannya mengalami kesulitan untuk dilahirkan sehingga menelan air ketubannya sendiri, dan beberapa kasus rumit lainnya.

Ruang NICU adalah area steril yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Setiap rumah sakit pasti memiliki kebijakan mengenai pembatasan kunjungan yakni hanya ayah dan ibu bayi dan di jam jam tertentu yang sudah ditentukan oleh rumah sakit. Bila dideskripsikan lebih detail, ruang NICU pasti memiliki incubator, ventilator, monitor, dan infus pump yang bekerja non-stop. Setiap alat tersebut memiliki fungsinya masing-masing. Apabila dianalogikan secara sederhana, Incubator sebagai pengganti perut ibu yang hangat dan nyaman. Incubator, sebagai bed pasien berbentuk box yang tertutup rapat dengan pintu-pintu kecil di samping kanan kirinya, menjaga regulasi suhu tubuh bayi agar tetap stabil di suhu yang hangat atau suhu tertentu yang di-setting sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan bayi. Ventilator, mesin nafas yang berfungsi sebagai penunjang dan membantu paru-paru bayi agar tetap bisa bernafas. Bayi-bayi ini pasti terpasang sebuah selang yang dimasukkan dari mulut hingga mencapai paru-paru. Tentu saja, terpasang pula alat bantu makan yang dimasukkan melalui mulut hingga mencapai lambung bayi. Hal ini dilakukan agar nutrisi bayi tetap terpenuhi dan tentunya bayi tidak akan lupa dengan rasa ASI dari ibu tersayang, the golden liquid.

Keberadaan ruang NICU sangat penting untuk membantu bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan. Tindakan yang dilakukan oleh dokter dan perawat yang bertugas di dalam ruang NICU sangat mempengaruhi kelangsungan hidup bayi-bayi didalamnya. Pun demikian, tidak akan ada satupun orang tua yang berharap buah cintanya mencicipi alat-alat canggih di ruang perawatan intensive ini.

Begitulah gaya ungkap ibu muda yang menurut keterangan dari Allahu Yarham RKH. Sholeh Qosim masih bersambung nasab dengan suaminya dari jalur Sayid Sulaiman Mojoagung dalam mendeskripsikan “ruang kerjanya”. Betapa diksi “buah cinta”, “pasien mungil”, “bayi lucu menggemaskan” menunjukkan betapa dia bekerja dengan hati. Dan ini pasti menyakitkan, utamanya ketika pasien-pasien tersebut harus meninggal dalam perawatannya.

Sosok yang tidak sedikitpun tertarik untuk daftar PNS ini selain harus merawat pasien di rumah sakit, ia masih harus menguji kapabilitas dirinya dalam mendidik putra semata wayangnya dengan pertanyaa-pertanyaan filosofisnya. Hasyim, panggilan anak semata wayangnya, selalu menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan berat semisal,

“Ma, lampu ne itu lho ngikuti Hasyim terus Ma.” 

“Mana Syim?”

“Itu lho Ma yang ada di atas (sambil menunjuk langit).”

“Owalha, itu bukan lampu. Tapi Bulan.”

“Lho, kata e yang nyala itu lampu. Koq bulan lo?”

Atau pertanyaan menyesakkan semisal,

“Umma, Hasyim ini dilahirkan buat apa sih Ma? Apa buat mainan mobil-mobilan? Apa buat mainan sama adik Sobib (sepupunya)? Atau buat dititipkan di Mak?”

Pada titik kepuyengan tingkat tinggi seperti ini biasanya ia akan langsung wadhul ke suaminya, dan akan selalu konsisten dijawab oleh suaminya dengan tawa terbahak-bahak.

Kerumitan hidup seperti ini tentu dialami oleh siapapun. Dalam hal sosok inspiratif kita kali ini, ia menghadapi kerumitan-kerumitan dalam hidupnya dengan pening yang sebentar dan ngomel yang sebentar, terutama kepada suaminya. Setelah cukup mengeluarkan “kemanusiaannya”, ia akan kembali ke amaliah istiqomahnya; nderes Al-Qur’an, sholat malam, wiridan, dan amaliahamaliah lain yang sudah ia amalkan sejak kecil, buah ngaji dan berinteraksi secara intens dengan guru-gurunya, utamanya Almaghfurlah Nyai Chudzaifah Hamzah, yang biasanya muncul dalam mimpinya memberikan isyarat-isyarat tertentu yang seringnya ia sendiri tidak paham akan makna isyarat-isyarat tersebut. Namun mimpi itu seolah menjadi pemicu dirinya untuk selalu muhasabah, untuk selalu belajar dan tetap maju dalam menghadapi kerumitan-kerumitan yang terjadi dalam hidupnya.

Bagaimana kemudian pengalaman ngaji dan intensitas interaksi dengan guru-gurunya telah mengejawantah menjadi diri adalah satu hal yang menjadi kelebihan dari sosok inspiratif kita kali ini. Apakah itu cukup? Tentu belum. Tapi apakah itu bisa menjadi bekal untuk menghidupi kerumitan hidup di era yang didefinisikan dengan speed dan agile ini? Tentu jawabannya sangat bisa. Karena dengan pengalaman ngaji, kita mendapatkan gambaran tentang hakikat hidup dan apa yang semestinya dilakukan dalam menjalaninya. Dengan intensitas interaksi dengan guru, kita tahu betul kepada siapa harus bertanya ketika kita mengalami kebuntuan dan betapa pentingnya membangun keterjalinan batin antara kita dengan guru. Karena seseorang yang membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya tanpa melalui arahan seorang guru, atau kerangka berpikir, bersikap, dan memutuskan dari seorang guru, niscaya gurunya adalah setan.

Semoga menginspirasi.


Comments

Leave a Reply