PAGER MANGKOK LUWIH MULYO TIMBANGANE PAGER TEMBOK (Edisi Kedua, Akhlak Bertetangga)

572 views

Oleh Moh. Makmun

Jika edisi kesatu membahas tentang larangan menyakiti tetangga, maka kali ini kita bahas tentang anjuran berderma pada tetangga.

Judul tersebut merupakan nasehat turun temurun leluhur kita semuanya, bahkan penulis pun senantiasa diwanti-wanti untuk menjalankan nasehat agung tersebut. Orangtua saya pernah memberikan nasehat, “Sabendino siapno panganan nang omahmu, yen gak ono panganan, siapno jajanan, yen gak ono jajanan, siapno duit. Sopo ngerti ono tonggo utowo wong sing mertamu sing durung mangan, utowo ra nduwe, awakmu isih iso ngekeki. Shodaqoh ora usah nunggu sugih.”

Judul dan nasehat yang demikian ini ternyata tidak semata local wisdom, melainkan ada dasar hadisnya, antara lain Nasehat Rasulullah untuk Abu Dzar:


أخرج المسلم في كتاب البر والصلة والأداب 4758: حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِإِسْحَقَ قَالَ أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا و قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ الْعَمِّيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

Dari Abu Dzar berkata, Rasulullah Saw., telah bersabda, “Wahai Abu Dzar, ketika kamu memasak masakan yang berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan saling berjanjilah dengan para tetanggamu (untuk saling memberi)”.
Berdasarkan hadis tersebut, ada beberapa pelajaran yang terkandung:
Pertama, anjuran untuk bershadaqah kepada tetangga. Siapapun dan dalam kondisi apapun hendaknya jangan pelit dan kikir kepada tetangga. Andaikan ia kurang mampu, hanya memiliki sepotong daging, maka ketika dimasak gulai, atau rawon atau apapun hendaknya kuahnya diperbanyak, sehingga bisa bershadaqah ke tetangganya.
Kedua, adanya pesan bahwa dalam hidup bertetangga, seseorang jangan hanya mau menerima pemberian tetangganya saja tanpa mau berbagi atau memberi ke tetangganya. Dengan demikian kehidupan bertetangga akan berjalan harmonis dan damai.

Di sisi lain, terdapat peringatan dari Rasulullah Saw., bahwa seseorang tidak boleh meremehkan pemberian tetangganya:


أخرج البخاري في كتاب الهبة وفضلها والتحريض عليها 2378: حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Dari Abu Haurairah r.a. dari Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Wahai para wanita muslimah, jangan ada seorang tetangga yang meremehkan pemberian tetangganya meskipun hanya berupa kaki kambing.”
Kata ”فرسن” fa’ di kasrah, dan ra’ di sukun/mati bermakna bagian kaki di atas telapak/tumit.

Hal ini berarti bahwa yang dilihat janganlah bendanya, tapi lihatlah kepedulian dan ketulusan orang tersebut yang rela berbagi dengan tetangga, sebab bisa jadi hanya benda itu yang dimiliki dan dirasa pantas untuk diberikan tetangganya. Andaikan tetangga meremehkan pemberian tersebut, maka ia akan terkena dosa menyakiti tetangga.

Tetangga manakah yang paling berhak diberi pemberian? Rasulullah memberikan jawabannya:


أخرج البخاري في كتاب الشفعة 2599: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ قَالَ سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Dari Aisyah r.a. berkata, “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga. Kepada tetangga yang manakah aku berikan hadiah?” Jawab Nabi, “Kepada tetangga yang pintu rumahnya lebih dekat denganmu.”

Dalam bertetangga tidak boleh pilah pilih mana yang disukai dan tidak. Siapapun tetangga terdekatnya, maka ia lebih berhak untuk kita beri pemberian.

Tidak hanya itu, berbuat baik dan memberi tetangga tidak boleh diskriminasi berdasarkan agama. Apapun agamanya, dan siapapun ia, jika ia tetangga kita, maka kita wajib menghormatinya.

Ada sebuah kisah menarik, suatu ketika Sayidah Aisyah tengah mengadakan tasyakuran dengan memotong kambing. Masakan daging kambing dibagikan kepada tetangga-tetangga. Mengetahui apa yang dilakukan istri beliau, akhirnya Rasulullah bertanya; “Wahai istriku apakah engkau telah membagikan masakan ini kepada si fulan?” Sayidah Aisyah menjawab; “Belum, ia seorang Yahudi, dan saya tidak akan mengiriminya masakan.” Mendengar jawaban ini, Nabi Saw., akhirnya memerintahkan agar membagikan masakannya kepada Yahudi tadi. “Kirimilah! Walaupun Yahudi, ia tetap tetangga kita.”

Lantas apa kaitannya antara pager mangkok dengan pager tembok? Makna yang terkandung dalam judul adalah seseorang yang memagari rumahnya dengan mangkok, artinya sering memberi pemberian kepada tetangga-tetangganya, maka keamanan rumahnya lebih terjamin daripada pager tembok. Sebab tetangga akan ikut andil, peduli dan turut serta mengawasi rumah kita. Dengan pager mangkok, seseorang akan lebih banyak bershadaqah. Dengan pager mangkok membuat penghuni rumahnya menjadi mulia di sisi Allah dan Rasulullah.

So, jangan pelit pada tetangga
So, jangan diskriminasi dalam bertetangga.


Comments

Leave a Reply