Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 28)

101 views

Setelah menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan dzikir, Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata, “janganlah menyekutukanNya ketika sedang berdzikir.” Ulama telah bersepakat bahwa setiap sesuatu selain Allah SWT yang muncul dalam dzikir murid akan melambatkan kecepatan perjalanannya menuju Allah SWT, cepat atau lambatnya futuh seorang murid ditentukan oleh kadar murid sendiri.

Para ulama berkata, wajib bagi seorang syaikh untuk memrintahkan muridnya untuk berdzikir kepada Allah SWT dengan lisannya, dengan keras dan penuh keteguhan. Ketika murid tersebut sudah mampu menytabilkan hal ini, maka sang murid diminta untuk menyeleraskan antara dzikir lisan dengan dzikir dihatinya dan berkata, “teruslah melakukan dzikir seperti ini hingga dirimu merasakan kau berada di hadapan Allah SWT selamanya, dengan hatimu. Dan jangan tinggalkan dzikir tersebut hingga kalian mendapatkan hal (terberi oleh Allah SWT) dan seluruh anggota tubuhmu itu berdzikir tanpa sedikitpun lupa kepada Allah SWT. Jangan menambahi amal ibadahmu selain ibadah fardlu, sunnah mu’akad dan jangan tersibukkan dengan membaca Al-Qur’an al-Karim, juga selainnya, karena itu semua adalah wirid orang-orang yang sempurna yang telah mengetahui keagungan Al-Haq ta’ala.”

Setelah syaikh mentalqin dzikir, maka syaikh memerintahkan murid untuk menahan lapar sedikit demi sedikit agar kekuatannya menjadi lebih terukur dan tidak menjadi lemah seketika hingga dzikirpun tak lagi mampu. Syaikh hendaknya juga memerintahkan untuk meminimalisir bercanda, tidur, dan agar murid menjauh dari manusia karena ketiga hal ini sejatinya harus dilakukan selalu dalam keadaan mentauhidkan Allah SWT. Jika hal ini tidak dilakukan, maka setiap cahaya tauhid yang muncul akan langsung dipadamkan oleh kegelapan yang muncul dari makanan dan bercanda, seperti yang telah ditetapkan dalam rukun-rukun thoriqoh, jalan menuju Allah SWT. Dan telah banyak sekali para syaikh yang gagal menjadikan muridnya sampai kepada Allah SWT ketika rukun-rukun thoriqoh ini tidak dipenuhi.

Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata, “berdzikirlah dengan kuat dalam jama’ah dengan penuh rasa pengagungan.” Berdzikirlah dengan keras karena berdzikir dengan keras lebih memberikan manfaat bagi orang-orang yang tidak mampu meneguhkan hati. Para ulama telah bersepakat akan kewajiban berdzikir dengan keras bagi murid ketika dzikir dengan pelan atau dzikir dalam hati tidak memberikan faidah signifikan baginya. Seyogyanya, dzikir dengan keras itu dilakukan dengan pelan, dapat dipahami pronunciationnya,  karena ketika dzikir tidak dilakukan dengan pelan terkadang hanya akan membuat perut murid kembung, tidak memberikan bekas, sehingga sia-sia dzikir dengan kerasnya.

Wajib bagi murid untuk berdzikir dengan kuat. Para ulama sufi berkata, “ketika murid berdzikir kepada Allah SWT dengan kuat dan penuh keteguhan maka banyak maqam-maqam thoriqoh yang akan dipersingkat baginya hingga terkadang murid mampu menyelesaikan sebuah maqam thoriqoh hanya dalam waktu satu jam yang bagi selainnya baru dapat diselesaikan dalam satu bulan atau bahkan lebih. Para ulama berkata, “wajib bagi murid untuk berdzikir dengan kekuatan yang paripurna sekiranya tidak ada lagi kekosongan didirinya dan hingga bergerak seluruh tubuhnya, mulai ujung rambut hingga ujung kaki.

Wajib adanya dzikir itu dengan berjama’ah karena dzikir dalam jama’ah itu lebih memberikan efek dalam mengangkat hijab. Para ulama baik salaf maupun kholaf telah bersepakat akan kesunnahan berdzikir dengan berjama’ah baik di dalam masjid atau selainnya dengan tanpa syarat. Imam Ghozali menganalogikan dzikir sendiri dengan dzikir berjama’ah itu semisal adzan sendiri dengan adzan secara berjama’ah. Al-Ghozali berkata, “sesungguhnya suara mu’adzin-mu’adzin yang adzan dengan serentak akan memecah udara lebih efektif dari mu’adzin yang adzan sendiri. Begitu juga dzikir dengan berjama’ah akan lebih memberikan bekas di hati dalam menghilangkan hijab karena Allah SWT menyamakan hati dengan batu. Dan telah maklum bahwa batu tidak akan mungkin pecah kecuali dengan kekuatan jama’ah yang menempa batu tersebut, karena kekuatan jama’ah jauh melampaui kekuatan satu orang.”

Jika ditanyakan mana yang lebih afdhol, dzikir la ilaha illAllah atau ditambahi Muhammad Rosulullah? Maka jawabannya, lebih afdhol bagi salik untuk berdzikir la ilaha illAllah, bukan selainnya hingga ia mampu merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT dalam hatinya. Ketiadaan penambahan Muhammad Rasulullah karena lafadz ini hanyalah iqrar, penetapan dalam hati. Dan penetapan dalam hati cukup sekali seumur hidup. Sedang tujuan mengulang-ngulang la ilaha illAllah untuk memborbardir hijab dalam diri dengan mengkilapkannya dengan la ilaha illAllah.

Wajib bagi setiap yang berdikir untuk menghadirkan keagungan Al-Haq tabaraka wa ta’ala sebelum ia memasuki dzikir. Syaikh Abu Bakr al-Kunani berkata, “salah satu syarat seseorang yang berdzikir adalah berdikir dalam keadaan mengagungkan dan memuliakan Allah SWT (tidak dengan melamun atau pikirannya kemana-mana). Jika ia tidak berdzikir seperti ini, niscaya ia bukanlah manusia yang sempurna.” Beliau juga berkata, “demi Allah, seandainya Allah SWT tidak mewajibkanku untuk berdzikir, niscaya Aku tidak akan berani-berani untuk menyebut namaNya demi untuk mengagungkannya. Orang-orang sepertiku (berani) menyebut nama Al-Haq ta’ala, sedang lisannya belum lagi dibasuh dengan seribu taubat dari perbuatan dosa sebelum ia berdzikir.”

Para ulama bersepakat bahwa seseorang yang tidak menghiasi dirinya dengan adab, tata krama, berdzikir yang berjumlah dua puluh, maka terlalu jauh baginya untuk mendapatkan futuh. Salah satu kewajiban dari dzikir adalah bertaubat dari setiap yang sia-sia, yang tidak relevan manfaatnya menurut syariat sebelum ia berdzikir. Kewajiban lainnya adalah memperbanyak syukur setelah berdzikir, tidak minum sesudah dzikir, tidak tersibukkan dengan haq-haq makhluq kecuali yang dapat menolong dalam perjalanannya menuju Allah SWT.

Ini adalah akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah SWT untuk mengumpulkannya dalam al-Washiyat al-Saniyah, wasiat yang agung. Aku memohon kepada Allah SWT akan anugrahnya untuk memberikan kemanfaatan bagi setiap orang yang membacanya, dan Allah SWT menutupi setiap dosa, baik di dunia dan di akhirat, tidak menyegerakan menyiksa, dan semoga sholawat dan keselamatan semoga tetap tercurahkan atas Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruhnya.

Alhamdulillah.


Comments

Leave a Reply