Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 27)

64 views

Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata, “ketahuilah bahwa sesungguhnya dengan berdzikir kepada Allah SWT akan menghilangkan kegalauan” yang banyak menimpa manusia di zaman ini. Karena sesungguhnya kadar keperihatinan dan kegalauan seseorang itu berbanding lurus dengan kadar kelupaannya kepada Allah SWT. Maka siapa yang ingin terus berbahagia maka dia akan melanggengkan dzikir. Jangan sekali-kali seorang hamba menyalahkan yang lain, ketika ia galau, kecuali dirinya sendiri. Niscaya kegalauan dan keprihatinannya merupakan balasan yang bersesuaian dengan kadar seberapa jauhnya seseorang meninggalkan Allah SWT. Pahamilah.

Ketahuilah bahwasannya dzikir kepada Allah SWT itu bisa menghilangkan sifat keras dalam hati. Al-Hakim Abu Muhammad al-Tirmidzi ra. Berkata, “dzikir kepada Allah SWT akan membasahi dan melunakkan hati. Ketika hati sepi dari dzikir maka panas tubuh dan api syahwat akan menyambar sehingga hati akan keras dan kering dan anggota tubuh lainnya akan berhenti dari melakukan ketaatan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir kepada Allah SWT akan memadamkan penyakit hati semisal: sombong, ujub, riya’, hasud, berburuk sangka, hiqd, sakit hati, makar, senang dipuji, dan lainnya. Pahamilah.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya dengan melanggengkan dzikir akan terputus bisikan-bisikan hati yang berasal dari syaithon. Perbedaan antara bisikan syaithon dan bisikan nafsu adalah bahwasannya sebagian besar bisikan syaithon itu mengarah pada perbuatan maksiat, sedang bisikan nafsu kebanyakannya adalah mengikuti syahwat. Para ulama membedakan antara keduanya bahwa nafsu ketika menuntutmu untuk melakukan sesuatu maka dia akan fokus pada hal tersebut. Nafsu tidak akan berpindah pada yang lain sebelum keinginan tersebut dituruti. Meski waktu telah lama berselang, nafsu tidak akan lupa, kecuali ketika kita benar-benar serius mengaturnya. Sedang syaithon ketika mengarahkanmu pada sebuah dosa, lalu kita tidak menurutinya, maka syaithon akan segera beralih pada bentuk dosa yang lain karena setiap dosa yang dilakukan oleh manusia adalah sama menurut syaithon. Tidak penting bentuk spesifik sebuah dosa, yang penting itu termasuk perbuatan dosa. Makna “khotir”, bisikan, disini adalah pembicaraan yang terjadi dalam hati.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir kepada Allah SWT dapat menolak bahaya. Imam Dzun Nun al-Mishri ra. berkata, “seseorang yang berdzikir kepada Allah SWT maka Allah SWT akan menjaganya dari apapun.” Para ulama sufi berkata, “dzikir adalah pedang bagi murid. Dengan pedang tersebut mereka memerangi musuh-musuhnya, baik dari golongan jin dan manusia. Dengan pedang tersebut mereka menolak setiap bahaya yang mendekatinya.” Para ulama sufi juga berkata, “sesungguhnya bala’ ketika mendekati sebuah kaum yang didalamnya terdapat orang yang berdzikir, maka seketika ia akan menjauh.”

Para ulama sufi berkata, “sesungguhnya dzikir ketika menempat dalam hati maka syaithon akan pingsan ketika mendekatinya, seperti halnya manusia yang pingsan ketika syaithon menampakkan diri dihadapannya. Ketika syaithon ini pingsan, maka akan banyak sekali syaithon yang mengerubunginya dan bertanya, “apa yang terjadi?” Salah satu dari mereka menjawab, “ia mendekati seseorang yang berdzikir. Lalu ia tak sadarkan diri.” Ketahuilah hal ini saudaraku dan perbanyaklah dzikir kepada Allah SWT karena dzikir dapat melindungi diri dari gangguan syaithon.

Syaikh Afdholudin ra. berkata, “sesungguhnya syaithon itu menunggangi salah satu dari kita yang lupa akan dzikir kepada Allah SWT. Syaithon selamanya akan bertempat di hati, dan setiap kali seseorang lupa akan dzikir maka niscaya syaithon akan menguasainya. Dan setiap kali ia ingat kepada Allah SWT maka syaithon akan menjauh. Seandainya salah satu dari kita dibuka hijabnya oleh Allah SWT maka niscaya kita akan dapat melihat iblis menunggangi kita seperti halnya ketika kita menunggangi khimar. Iblis akan mengendalikan kita sesuka hatinya sepanjang hari dan malam setiap kali kita lupa kepada Allah SWT, dan ia akan menyingkir ketika kita ingat kepada Allah SWT.”

Para ulama sufi telah bersepakat bahwa sesungguhnya dzikir adalah kunci dari setiap yang ghaib dan dzikir akan dapat menarik setiap kebaikan, penenang kegelisahan, serta hal yang dapat memunculkan kemantapan dalan hati. Ketika dzikir telah bercampur dengan ruh maka akan tumbuh rasa cinta akan nama yang ia dzikirkan, yang selalu ia sebut dalam setiap keadaan. Bahkan ada seseorang yang berdzikir kepada Allah SWT yang kepalanya tertimpa batu hingga darah menetes dari kepalanya dan darah ini jatuh ke tanah dengan menulis lafadz Allah. Dzikir adalah sebuah perbuatan mulia. Ketiadaan batasan waktu kebolehan berdzikir membenarkan akan hal ini. Dan para ulama sufi telah bersepakat bahwa kita tidak boleh meninggalkan dzikir meski kita dalam keadaan lupa. Pahamilah.

Faidah dzikir itu tidak terbatas karena orang yang berdzikir adalah orang-orang yang berada paling dekat dengan Allah SWT, dalam hal sir juga ilmu. Kedekatan dzakir, orang yang berdzikir, dengan Allah SWT ini merupakan kedekatan yang bukan transaksional; terkabulkannya hajat, terlunasinya hutang, dll. Kedekatan ini adalah kedekatan yang sampai pada level merasakan kehadiran Allah SWT. Karena itu ketika disampaikan pada seseorang yang hadir dalam majelis ini, “apa yang Allah SWT berikan padamu dalam majelis ini?”, ketika ia menjawab, “Aku tidak mendapatkan apa-apa,” maka niscaya ia bukan merupakan seseorang yang ‘hadir’ dalam dzikirnya. Dan seyogyanya, orang seperti ini mencari guru yang dapat menghilangkan setiap hal yang membuatnya tidak mampu merasakan ‘kehadiran’ Allah SWT.

Jika ia kesulitan menemukan guru yang seperti di atas maka perbanyaklah dzikir dengan melafadzhkan dzikir, tidak dzikir di dalam hati, hingga ia mampu ‘menyaksikan’ Allah SWT dan mendapatkan futuh. Karena sesungguhnya dzikir kepada Allah SWT hakikatnya adalah kemampuan seorang hamba untuk terus menerus ‘menyaksikan’ Allah SWT dan kesadaran penuh bahwa dirinya berada di ‘genggaman’ Allah SWT. Dzikir dengan lisan adalah wasilah yang mampu mengantarkan kita pada pencapaian ini. Dan ketika ‘penyaksian’ telah didapatkan, maka dzikir lisan tidak lagi relevan. Dan dzikir dengan lisan ini tetap dapat dilakukan di tempat dimana ia menjadi imam, menjadi pemimpin dalam sebuah majelis dzikir.

Dzikir dengan lisan tidak lagi relevan karena pertemuan antara seorang hamba dengan Al-Haq adalah sebuah pertemuan ketenangan, tidak ada lagi suara dibutuhkan. Karena suara itu seperti petunjuk akan suatu hal. Ketika perjumpaan telah terjadi maka petunjuk tidak lagi dibutuhkan.  Ketahuilah hal ini, karena niscaya hal ini adalah sesuatu yang lembut yang tidak semua orang mampu memahami.


Comments

Leave a Reply