Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 26)

366 views

Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata, “ketahuilah bahwa sesungguhnya seseorang tidak akan mampu sampai ke Hadlrah Ilahiyah kecuali dengan dzikir.”

Sayid Abu Madyan al-Talmasani r.a. berkata, “seseorang yang melanggengkan dzikirnya niscaya lembut hatinya. Seseorang yang lembut hatinya maka tempatnya adalah di Hadlrah Ilahiyah. Penjelasan dari hal ini adalah karena Allah SWT tidak akan mendekatkan Hadlrahnya kecuali kepada orang-orang yang malu dengan sebenar malu. Seseorang tidak akan mampu merasa malu dengan sebenar malu kecuali ia telah mencapai kasyf dan diangkatnya hijab. Kasyf dan diangkatnya hijab tidak akan tercapai kecuali dengan melanggengkan dzikir. Dan ini adalah thoriqoh yang dapat mengantarkan murid dengan cepat.”

Yang dimaksud dengan Hadlratillah ta’ala ketika diucapkan oleh seseorang adalah menyaksikannya seorang hamba bahwa ia sejatinya berada di sisi Allah SWT. Maka selama ini adalah apa yang ia saksikan maka selama itu pula ia berada di Hadlratillahi ta’ala. Ketika ia terhijab dari menyaksikan ini, maka ia telah keluar dari hadlratillah. Pahamilah.

Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata, “ketahuilah bahwa sesungguhnya seseorang tidak akan mampu mencapai kasyf dan ikhlas yang sempurna kecuali dengan dzikir.”

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kasyf tidak akan mampu dicapai kecuali dengan dzikir. Kasyf terdiri atas dua bentuk: hissi dan khoyali. Khoyali adalah ketika seorang hamba memejamkan matanya ketika ia melihat seseorang atau melihat sebuah perbuatan. Jika gambaran yang ia dapatkan ketika mata terbuka masih bertahan ketika matanya tertutup, maka ini dikategorikan khoyali. Jika hilang, maka ketahuilah bahwa seseungguhnya apa yang ia temukan ketika mata terpejam itu berkaitan dengan sesuatu yang tertentu. dalam artian bahwa kita tidak akan mampu membayangkan sesuatu dengan mata terpejam jika sesuatu yang kita bayangkan tidak memiliki arti khusus bagi kita. Seseorang yang memiliki kasyf perihal apa yang dilakukan oleh orang lain di dalam rumah mereka, maka ini tergolong kasyf syaithoni yang wajib untuk segera ditaubati.   

Penjelasan dari dawuh ulama yang berbunyi “seseorang yang kamil, yang sempurna, tidak akan memiliki kasyf” itu karena seseorang yang telah kamil tersibukkan dengan memenuhi perintah-perintah Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya dan ketika ia memenuhi perintah Allah SWT ini, tidak ada celah bagi selainNya. Ia melakukan apapun hanya untuk Allah SWT.

Ikhlas yang sempurna tidak akan terwujud kecuali dengan dzikir, dan yang haq ya seperti ini. Para ulama telah menjelaskan ini dalam risalahnya. Mereka berkata, “sesungguhnya yang pertama kali bertajalli pada hamba, ketika ia tersibukkan dengan dzikir, adalah keesaan perbuatan Allah SWT, keesaan kepemilikan Allah SWT, dan keesaan wujud Allah SWT. Ketika keesaan perbuatan Allah SWT telah bertajalli maka hamba akan mendapatkan kasyf dan keyakinan bahwa sesungguhnya setiap pergerakan di alam semesta ini adalah perbuatan Allah SWT. Dan dengan kasyf dan keyakinan hamba ini, ia akan berlepas dari meminta pahala dari apa yang telah ia lakukan, berlepas dari sifat takabur, ujub, dan riya’ menuju kepada keikhlasan yang sempurna. Pahamilah, dan perbanyaklah berdzikir kepada Allah SWT karena Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly berkata bahwa “dengan dzikir niscaya rahmat akan turun”.

Hal ini sesuai dengan hadits Thobroni yang berbunyi, “tidak ada segolongan manusia yang duduk dengan berdzikir kepada Allah SWT kecuali malaikat rahmat akan mengelilinginya dan menaungkan sayapnya, dan Allah SWT akan menyebut nama-nama mereka kepada yang berada disekelilingNya.” Para ulama berkata, “rahmat pertama kali akan turun pada majelis-majelis dzikir.” Pahamilah.


Comments

Leave a Reply