Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 25)

152 views

Masih melanjutkan wasiat Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly perihal dzikir, dan janganlah kalian meninggalkan dzikir “karena sesungguhnya dzikir adalah tiang thoriqoh yang lebih besar dari sholat.”

Al-Ustadl Abu Ali al-Daqoq r.a. berkata, “dzikir adalah tiang yang kuat dalam jalan menuju Allah SWT.” Bahkan ia merupakan tiang utama dalam jalan menuju Allah SWT. Tidak akan sampai seseorang kepada Allah SWT kecuali hanya dengan melanggengkan dzikir.

Syaikh Abu al-Mawahib al-Syadzily r.a. berkata, “dzikir lebih utama dari sholat karena sholat, meskipun sholat adalah ibadah yang agung, namun sholat tidak diperbolehkan pada waktu-waktu tertentu, berbeda dengan dzikir. Karena dzikir dapat dilakukan secara terus menerus dalam setiap keadaan.” Beliau juga berkata, “ulama berbeda pendapat perihal mana yang lebih utama, dzikir secara sir atau dzikir dengan keras. Dalam hal ini Aku berpendapat bahwa dzikir dengan keras itu lebih utama bagi orang yang mampu untuk berdzikir dengan keras dari orang-orang yang baru memulai masuk dalam thoriqoh. Sedang dzikir sirr itu lebih utama bagi orang-orang yang hatinya telah mampu khusyu’ kepada Allah SWT dari orang-orang yang sudah di tahap akhir thoriqoh.” Beliau juga berkata, “sighot dzikir yang paling utama bagi murid adalah ‘la ilaha illAllah’ selama murid tersebut masih dalam tahap mengontrol hawa nafsunya. Ketika hawa nafsunya telah terkontrol, tidak lagi menjadi pengganggu, maka dzikir jalalah, lafadl ‘Allah’, itu lebih bermanfaat baginya. Karena yang dapat menyempurnakan murid pada level ini adalah sesuatu yang mencukupi mereka secara haqiqat, yakni Allah SWT. Pahamilah.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir adalah “nisbat kewalian.” Maksudnya, sebuah pengakuan dari Allah SWT pada seorang hamba akan kewaliannya, seperti halnya piagam atau surat pengangkatan yang diberikan oleh raja atas posisi tertentu. Tentunya pengakuan dari Allah SWT melampaui piagam atau surat perintah tadi. Maka seseorang yang diberikan taufiq oleh Allah SWT untuk melanggengkan dzikir, maka niscaya ia telah diberi surat pengangkatan oleh Allah SWT yang menjelaskan bahwa ia merupakan walinya Allah SWT. Sedang seseorang yang tidak lagi berdzikir kepada Allah SWT maka ia telah dicopot dari pangkat kewaliannya. Pahamilah.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dzikir itu “lebih cepat mengantarkan kita mencapai futuh dari ibadah-ibadah lainnya.” Sayid Ali al-Mursify r.a. berkata, “banyak Syaikh yang gagal dan tidak menemukan treatment yang tepat bagi murid untuk mempercepat pencapaian seorang murid, dalam mengkilapkan hati, selain melanggengkan dzikir. Posisi dzikir dalam mengkilapkan hati murid itu semisal posisi kerikil pada tembaga. Dan posisi dzikir diantara ibadah-ibadah lainnya semisal sabun pada tembaga. Dan mengkilapkan tembaga menggunakan sabun membutuhkan waktu yang lama. Beliau juga berkata, “seorang salik yang menggunakan metode dzikir itu semisal burung yang terbang keharibaan dzat yang Maha Dekat. Sedang salik yang tidak menggunakan metode dzikir itu semisal orang yang lumpuh yang bergerak dengan kedua lututnya, sejenak ia bergerak dan sejenak ia berhenti, menuju tempat yang ingin ia tuju yang teramat jauh. Terkadang mereka terhenti karena usia mereka telah habis sedang tempat yang mereka tuju masih tak terlihat.”

Ulama telah bersepakat bahwa sesungguhnya futuh itu lebih mudah digapai di malam hari daripada siang hari. Mereka berkata, “setiap orang yang tidak berdzikir kepada Allah SWT mulai dari terbenamnya matahari hingga subuh dalam satu majlis, selain waktu sholat, maka niscaya ia tidak mendapatkan sesuatu apapun dalam thoriqoh menuju Allah.” Mereka juga berkata, “seseorang yang belum mendapatkan kejenakan yang konsisten dan rasa kehadiran bersama Allah dalam dzikirnya, maka jangan dulu menyelesaikan majelis dzikirnya.” Pahamilah.


Comments

Leave a Reply