Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 24)

175 views

Wasiat ketujuh belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “jangan melupakan dzikir kepada Allah SWT”. Ulama sufi berkata, “seseorang yang melupakan dzikir kepada Allah SWT, maka dia telah kafir.” Mereka juga berkata, “setiap orang yang menyepelekan lupa dzikir kepada Allah SWT dan lupa dzikir kepada Allah SWT ini tidak ia rasai lebih menyakitkan dari tebasan pada lehernya maka ia telah berbohong. Ia tidak akan mendapatkan apapun dalam perjalanannya menuju Allah SWT.”

Ulama Sufi berkata, “ketika seorang ahli ma’rifat meninggalkan dzikir dalam satu atau dua tarikan nafas, niscaya Allah SWT akan mengizinkan setan untuk mendekatinya, hingga menjadi teman yang selalu menyertainya. Sedang bagi selain ahli ma’rifat diberikan kemurahan oleh Allah SWT ketika ia meninggalkan dzikir dalam satu atau dua tarikan nafas, dan tidak akan ada siksaan baginya kecuali satu atau dua derajat sesuai dengan tingkat kedekatannya dengan Allah SWT.”

Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan, “Allah berkata, ‘Aku berbanding lurus dengan prasangka hambaku. Aku bersamanya ketika ia mengingatku. Ketika ia menyebutkku dalam keadaan sendiri, Aku juga menyebutnya seperti itu. Ketika ia menyebutku di sebuah majlis yang mulia, maka Aku akan menyebutnya di majelis yang jauh lebih mulia dari majelisnya.”

Imam Ibn Hibban meriwayatkan, “perbanyaklah dzikir kepada Allah SWT hingga orang-orang mengataimu gila.” Imam Muslim, Imam Nasa’I dan Imam Bazar meriwayatkan, “’Apakah kalian ingin kuberitahu perihal amal terbaik dan paling tersucikan di sisi Allah SWT, amal yang paling tinggi mengangkat derajat kalian, yang lebih baik dari emas dan perak, dan yang lebih baik dari bertemu musuh di medan peperangan dan lalu kalian membunuhnya, atau dia membunuhmu?’ Sahabat menjawab, ‘iya wahai Rasul.’ Nabi SAW menjawab, ‘dzikir kepada Allah SWT.’”

Imam Thabrani meriwayatkan, “tidak ada penyesalan bagi ahli surga kecuali momen yang mereka lewatkan tanpa mengingat Allah SWT.” Beliau juga meriwayatkan, “seseorang yang tidak mengingat Allah SWT, niscaya ia telah “terbebas” dari iman.” Beliau juga meriwayatkan, “perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah SWT dan yang tidak berdzikir kepada Allah SWT itu semisal orang hidup dan mati.” Beliau juga meriwayatkan, “Allah SWT berkata, ‘hai anak Adam, sesungguhnya ketika kalian berdzikir kepadaKu maka kalian telah bersyukur kepadaKu, ketika kalian lupa kepadaKu maka kalian telah kufur kepadaKu.”

Ulama sufi berkata, “lupa disini itu mencakup lupa karena tidak berpengetahuan akan Allah SWT dan menyekutukanNya, dan lupa karena berpaling dari Allah SWT dan jalan kepadaNya.” Keduanya tercela.

Imam Tirmidzi meriwayatkan, “’ketika kalian melewati pertamanan surga, maka nikmatilah.’ Sahabat bertanya, “duhai Rasul, apa pertamanan surga itu?’ Nabi SAW menjawab, ‘majelis dzikir.’” Beliau juga meriwayatkan, “seseorang yang sholat Subuh berjama’ah, kemudian ia duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu ia sholat dua rakaat, maka pahalanya semisal pahala haji dan umrah, seutuhnya.”

Imam Bazar meriwayatkan, “seseorang yang berdzikir kepada Allah SWT dalam keadaan lupa, tidak fokus kepada Allah SWT, itu semisal seseorang yang sabar kepada orang yang melarikan diri dari medan perang.” Beliau juga meriwayatkan, “tiada seseorang yang duduk dalam sebuah majelis dan lalu ia keluar dari majelis tersebut tanpa menyebut nama Allah SWT kecuali ia semisal orang yang baru saja menyingkir dari bangkai khimar. Niscaya hal ini akan menjadi penyesalannya di hari kiamat.”

Imam Ibn Abi Syaiba meriwayatkan, “tiada dari anak Adam kecuali di dalam hatinya terdapat dua ruang; yang satu bagi malaikat, dan satunya lagi bagi setan. Ketika ia berdzikir kepada Allah SWT, maka setan akan menyingkir. Ketika ia tidak berdzikir kepada Allah SWT, maka setan akan menancap dihatinya dan meletakkan was-was didalamnya.”

Imam Ibn Hibban meriwayatkan, “’bisa dikenali siapa yang termasuk ahli kumpul-kumpul dan ahli kemuliaan.’ Sahabat bertanya, ‘siapakah ahli kemuliaan itu?’ Nabi SAW menjawab, ‘ahli majelis dzikir.’” Abu Daud meriwayatkan, “niscaya dudukku bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah SWT mulai sholat Subuh hingga terbit matahari lebih Aku sukai daripada ketika Aku memerdekakan empat budak dari anak turun Nabi Ismail a.s.” Imam Ahmad meriwayatkan, “ghanimah dari majelis dzikir adalah surga.”

Syaikh Izuddin b Abdus Salam r.a. berkata, “hadits ini dan hadits-hadits semisalnya itu berada pada derajat perintah, karena setiap perbuatan yang dipuji syariat atau pelaku perbuatan yang dipuji syariat karena perbuatannya atau perbuatan yang dijanjikan kebaikan oleh syariat, baik di dunia maupun di akhirat, maka itu semua masuk kategori perintah. Tetapi derajat perintah ini masih belum bisa dipastikan apakah itu termasuk wajib atau sunnah. WAllahu A’lam.


Comments

Leave a Reply