Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 23)

227 views

Wasiat keenam belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “teruslah melangkah dengan adab,” saudaraku.

Ulama sufi berkata, “tidak seyogyanya seseorang mencari ilmu dan hadits hingga ia mengamalkan adab selama 20 tahun.” Ulama sufi juga berkata, “adab menempati kurang lebih di dua-pertiga agama. Mereka juga berkata, “seseorang yang menyepelekan agama maka ia kembali ke tempat dia berangkat.”

Para ulama sufi juga mengungkapkan bahwa “seseorang yang tidak memiliki adab maka ia tidak memiliki syariat, tidak memiliki iman, dan tidak memiliki tauhid.” “Seorang hamba dengan ibadahnya dapat mencapai surga namun ia tidak akan mencapai Allah SWT kecuali dengan adab dalam beribadah. Seseorang yang tidak menjaga adab dalam ketaatannya maka ia terhijab dari Tuhannya.” ungkap ulama sufi. Mereka juga berkata, “orang yang meninggalkan adab maka ia akan terusir. Seseorang yang tidak beradab di tempat tidur maka ia akan terusir hingga ke pintu. Seseorang yang tidak beradab di depan pintu maka tiada tempat baginya kecuali di kandang tempat hewan.”

Para ulama sufi memberi penakanan bahwa “wali Allah SWT tidak mencapai derajat tersebut karena banyaknya amal. Namun mereka mencapai derajat tersebut karena adab dan akhlaq yang baik.”

Adab adalah standar kepantasan yang berlaku dalam sebuah konteks masyarakat. Adab tidak bertentangan dengan syariat dan kultur masyarakat, bahkan ia memperkuat relasi antara syariat dan kultur masyarakat ke arah yang lebih baik hingga ia menjadi sesuatu yang menjadi bagian dari diri. Pada titik ini, adab telah menjadi akhlaq.

Sebagian besar dari kita memahami adab namun tidak dapat melaksanakannya karena ada jurang pemisah antara apa yang semestinya dilakukan dengan apa yang sebenarnya menjadi prioritas diri untuk dilakukan. Ketidak-sinkronan antara apa yang harus dan apa yang dilakukan inilah yang menjadi tugas terberat seorang murid. Karena dalam prakteknya, mengetahui bahwa “sebaiknya seperti ini” dengan melakukannya itu terdapat jurang pemisah yang lumayan jauh, bergantung pada setiap diri masing-masing. Karena itulah ulama sufi menjelaskan konsep syariat-thorqot-haqiqot sebagai upaya terukur yang dapat dilakukan oleh murid untuk dapat menjadikan adab ini hingga menjadi diri, menjadi akhlaq.

Secara praktis, mengikuti konsep diatas, maka seorang murid perlu memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mempraktikkannya, dan merefleksikan apa yang telah ia praktikkan-memahami hikmah dari aturan apa yang boleh dan tidak dilakukan-serta mengkaitkannnya dengan Allah SWT sehingga kita mampu menyaksikan Allah SWT dalam setiap apa-apa yang kita lakukan. WAllahu A’lam.


Comments

Leave a Reply