Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 22)

422 views

Wasiat kelima belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “teruslah dalam keadaan malu,” malu yang relevan menurut syariat. Karena malu yang seperti ini merupakan Sebagian dari iman.

Ulama sufi berkata, “ibadah itu memiliki 72 pintu. 71 pintunya berkenaan dengan malu kepada Allah SWT, sedang yang satu pintu berkenaan dengan semua bentuk perbuatan baik.” Di dalam hadits disebutkan, “malulah kepada Allah SWT dengan malu yang sesuai haqnya.” Sahabat berkata, “sesungguhnya kami malu ya Rasulullah.” Nabi SAW berkata, “bukan seperti itu. Tetapi seseorang yang malu kepada Allah SWT akan menjaga kepalanya dan setiap yang ia pikirkan, menjaga perutnya dan setiap yang masuk kedalamnya, mengingat mati dan betapa rapuh dirinya. Seseorang yang menginginkan akhirat maka dia akan meninggalkan setiap perhiasan dunia. Seseorang yang melakukan itu semua niscaya ia telah malu kepada Allah SWT dengan malu yang sesuai haqnya.”

Fudhail r.a. berkata, “ada lima tanda-tanda orang-orang yang celaka; kerasnya hati, mata yang tak pernah menangis, sedikit malu, mencintai dunia, dan banyak angan-angannya.” Al-Sarri r.a. berkata, “sesungguhnya haya’ (malu) dan uns’ (merasa bahagia) selalu mengelilingi hati. Ketika haya’ dan uns tadi bertemu zuhud dan wirai, maka niscaya haya’ dan uns tadi akan menetap. Namun jika sebaliknya, maka haya’ dan uns tadi akan lepas dan enggan untuk menetap. Tanda orang yang malu adalah ketiadaan berbuat dosa.”

Menurut Imam Ghozali dalam Roudlotut Tholibin, haya’ adalah tertunduknya ruh karena mengagungkan Dzat yang Maha Agung. Sedang uns adalah merasa nikmatnya ruh ketika bertemu dengan Dzat yang Maha Indah. Ketika keduanya bertemu maka paripurnalah setiap keinginan dan teraihlah akhir yang mulia.

Aku, Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rony, berkata, “niscaya yang dimaksudkan dalam ungkapan ‘ketiadaan berbuat dosa’ disini adalah tidak menetapi perbuatan dosa. Sayid Ali al-Mursify pernah ditanya perihal makna dawuh ulama Sufi ‘seorang murid bukan tergolong seseorang yang istiqomah dalam taubat hingga malaikat yang ada di arah kirinya tidak lagi mencatat sebuah perbuatan dosa selama dua puluh tahun.’ Apakah yang beliau maksudkan disini adalah ‘sama sekali tidak melakukan dosa’? atau yang dimaksudkan adalah murid tersebut tidak menetapi perbuatan dosa dengan dia bertaubat dan beristighfar sehingga dosa tersebut dihapuskan hingga ke akar-akarnya dan malaikat tidak lagi menemukan dosa untuk dicatat. Karena malaikat akan menahan diri dari mencatat sebuah perbuatan dosa lebih dari satu jam agar seorang hamba mau bertaubat dan beristighfar. Maka ketika seorang hamba menyesali perbuatan dosa tersebut dan beristighfar, niscaya malaikat tidak akan mencatatnya sebagai sebuah perbuatan dosa.”

Telah dapat dipahami bahwa kedua malaikat pencatat amal tidak akan mencatat perbuatan maksiat, baik yang berupa ucapan ataupun perbuatan, kecuali ketika perbuatan maksiat terebut terucap atau pelaku maksiat tersebut berkata, “aku telah melakukan ini dan ini.” Allah SWT telah berfirman, “malaikat-malaikat pencatat amal yang mulia yang mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan.” ‘Mengetahui’ disini tidaklah sama dengan ‘mencatat.’ Pahamilah.


Comments

Leave a Reply