Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 21)

753 views

Wasiat keempat belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “perbanyaklah istighfar” karena mengikuti Al-Quran al-Adhim. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhori, “sesungguhnya Aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya 70 kali dalam sehari. Dan pada Riwayat Muslim, “sesungguhnya hatiku tertutup, dan (lalu) sesungguhnya Aku beristighfar seratus kali.” Dan menurut Ibn Hibban, “sesungguhnya Aku menghitung Rasulullah SAW dalam satu majlis membaca ‘Robbighfirli watub alayya innaka antat thawabur rohim’ sebanyak seratus kali.” Dan dalam wasiyat Syaikh Abu Hasan al-Syadzily ra., “teruslah beristighfar meskipun kalian merasa tidak memiliki dosa apapun. Tirulah istighfar al-Ma’shum al-Akbar SAW padahal beliau telah mendapat kabar bahagia dan menyakinkan atas dimaafkannya setiap dosa yang telah lalu dan akan datang.

Seyogyanya kita memperbanyak istighfar ketika awal dan akhir malam, awal siang dan akhir siang karena hadits Ibn Majah, “tiada dua malaikat pencatat amal melaporkan buku catatan amal kepada Allah SWT, dalam sehari, yang di awal dan di akhir buku tersebut terdapat istighfar kecuali Allah SWT berkata, ‘Aku telah memaafkan hambaku dari apa-apa yang tercatat antara dua ujung buku catatan amalnya.’ Sungguh sangat beruntung seseorang yang mendapati buku catatan amalnya terdapat banyak sekali istighfar.”

Seyogyanya kita juga memperbanyak istighfar ketika dirasa rizqinya mampet sesuai hadits Ibn Hibban, “seseorang yang selalu dalam keadaan beristighfar kepada Allah SWT niscaya Allah SWT akan menjadikan setiap kesempitan menjadi kelapangan, menjadikan setiap kegelisahan menjadi kebahagiaan dan ia akan mendapat rizqi dari arah yang tanpa disangka-sangka.”

Seyogyanya kita memperbanyak istighfar ketika melakukan dosa karena hadits Riwayat al-Hakim dalam kitab Sohihnya, “tiada seorang muslim yang melakukan dosa kecuali malaikat yang ditugaskan mencatat setiap dosa-dosanya menahan penanya dari mencatat dosa sebagai dosa. Maka ketika dia beristighfar kepada Allah SWT dalam jam-jam tersebut maka Malaikat pencatat tidak akan mencatat perbuatan tersebut sebagai dosa dan ia tidak akan disiksa di hari kiamat.”

Seyogyanya kita memperbanyak istighfar ketika mengakhiri setiap perbuatan. Ulama ahli ma’rifat telah bersepakat akan kesunahan mengakhir setiap perbuatan dengan istighfar. Dan disebutkan dalam hadits, “sesungguhnya Nabi SAW beristighfar kepada Allah SWT setelah sholat fardlu sebanyak tiga kali” untuk diajarkan kepada umatnya dan mengingatkan mereka akan ketidaksempurnaan ketaatan mereka.

Dari penjelasan diatas, seyogyanya seorang hamba memperbanyak istighfar di waktu malam dan siangnya, baik ketika ia teringat akan perbuatan dosa tertentu atau tidak. Dengan memperbanyak istighfar, seorang hamba akan aman dari turunnya balak karena Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”

(Pengingat)

Menjadi kuat seorang hamba untuk memperbanyak istighfar ketika kebanyakan manusia mencitrakannya sebagai orang yang baik, sedang dalam batinnya ia merasa hal yang berlawanan dengan apa yang kebanyakan manusia citrakan kepadanya, dan selama masih terdapat sesuatu yang ia tutupi yang dengan tertutupinya hal tersebut ia menjadi masyhur di dunia dan akhirat. Maka yang pantas adalah memperbanyak istighfar dan merasa takut karena dia telah menutupinya dari mata manusia.

Para ulama sufi berkata, “sejelek-jeleknya manusia adalah mereka yang menyangka bahwa manusia lainnya melihat dirinya dalam kebaikan, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ketika kemudian manusia yang dicitrakan baik oleh selainnya ini kemudian memanfaatkan “citra” tersebut maka ia mengikuti apa yang dicitrakan manusia lain kepadanya, bukan apa yang dirasakan batinnya. Padahal syarat seseorang dikatakan sempurna adalah ketika ia melihat dua hal sekaligus, kelebihan dan kekurangan, agar kemudian ia mampu memenuhi hak-hak setiap dari dua tersebut, kelebihan dengan syukur dan kekurangan dengan istighfar. Dan seseorang yang tidak sempurna akan selalu melihat diri hanya dari satu sisi, kelebihan atau kekurangan, sebagai sebuah hal yang benar-benar berbeda, tidak seperti dua sisi mata uang yang entitasnya adalah satu. Berbeda dengan sosok yang sempurna, karena ia mampu melihat dari dua sisi atau sebuah kesatuan yang tidak ada yang saling bertentangan dalam kesatuannya.

Sedikit sekali seseorang yang mampu mengevaluasi dirinya dengan cara ini. Seringnya, senangnya kita ketika dianggap baik oleh selainnya melampaui apa yang semestinya menjadi hak kita. Dan kita jarang beristighfar kepada Allah SWT akan hal ini.

Ketahuilah hal ini saudaraku.


Comments

Leave a Reply