Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 20)

421 views

Wasiat ketiga belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “menjauhlah dari setiap yang berujung pada perbuatan menyakiti sesama” secara mutlaq, karena menyakiti sesama adalah catatan buruk yang tidak akan pernah dibiarkan tanpa pembalasan yang setimpal oleh Allah SWT. Sedang menyakiti diri dengan melakukan maksiat selain menyekutukan Allah SWT, meski sejatinya menyekutukan Allah SWT juga tergolong sebagai perbuatan menyakiti diri sendiri, akan dilupakan oleh Allah SWT selama dia telah melakukan taubat.

Sayid Ali al-Khowas ra. Berkata, “menyakiti sesama itu terbagi menjadi tiga bagian. Satu bagian berkenaan dengan nyawa, satu bagian berkenaan dengan harta, dan satu bagian berkenaan dengan kehormatan.” Bagian yang berkenaan dengan nyawa, didalamnya terdapat banyak hal, semisal; membunuh dengan sengaja atau tidak, kewajiban qishos, diyat, membayar kafarat, dan selainnya yang termaktub dalam kitab-kitab fiqih.

Bagian yang berkenaan dengan harta, wajib untuk mengembalikan harta pada pemiliknya yang sah atau ahli warisnya. Ketika mengembalikan harta tersebut menjadi hal yang sulit, karena pemilik atau ahli warisnya tidak diketahui keberadaannya, maka kita dapat menshodaqohkan harta tersebut dengan mengatasnamakan pemilik, mengikuti madzhab yang berpendapat demikian. Ketika tidak mampu mengembalikan harta kepada pemiliknya, maka perbanyaklah perbuatan baik untuk mengompensasi perhitungan amal di akhirat nanti.

Jika kita enggan untuk memperbanyak perbuatan baik, maka bersiap-siaplah untuk menanggung beban berat dari orang yang telah mereka sakiti dan dosa-dosanya di hari kiamat, seperti yang terdapat dalam hadits, “seseorang yang masih memiliki pahala amal baik, maka niscaya akan diambil pahala amal baik tersebut dan diberikan pada orang-orang yang telah mereka sakiti. Dan bagi yang tak lagi memiliki pahala amal baik, maka setiap dosa amal buruk dari orang yang mereka sakiti akan dipindahkan kepadanya dan ia akan dicatat sebagai ahli neraka.

Sedang bagian yang berkenaan dengan kehormatan telah dijelaskan dengan baik dan terperinci oleh sebagian ulama ahli tahqiq, niscaya mengikuti pendapat mereka adalah jalan yang paling selamat. Jika perbuatan menyakiti sesama itu berupa ghibah atau adu domba, maka solusinya berkisar pada dua hal; terkadang perbuatan menyakiti tersebut sampai pada orang yang kita sakiti, atau tidak. Jika ghibah atau adu domba tadi sampai terdengar oleh orang yang kita ghibahi atau kita adu dengan yang lain maka kita harus meminta maaf kepada mereka dan meminta keridloannya.

Jika ghibah tadi tidak sampai terdengar oleh orang yang kita ghibahi atau kita adu dengan yang lain maka memberitahunya niscaya akan menjadi luka baru yang berimbas pada terputusnya silaturahim, tak enak hati, dan selainnya yang lebih sakit dari perbuatan ghibah dan adu domba itu sendiri. Maka jalan keluar bagi hal ini adalah memperbanyak istighfar agar dosa orang-orang yang kita ghibahi atau kita adu dengan yang lain itu dimaafkan, bukan dengan memberitahu bahwa kita sudah mengghibah atau mengadu domba mereka dan meminta maaf kepada mereka serta meminta keridloannya.

Telah maklum bahwa ada beberapa dosa yang sulit untuk dikategorisasikan, apakah itu termasuk dosa karena menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain semisal zina dan perbuatan sodomi. Karena kategorisasi dari hal-hal tersebut membutuhkan penelitian yang mendalam agar kita mampu sampai pada kebenaran. Semisal; jika perbuatan tersebut dilakukan pertama kali maka perbuatan aniaya tersebut tergolong perbuatan aniaya pada diri.

Jika subyek perbuatan tersebut melemparkan rayuan dan merepetisinya berulang-ulang, maka hal tersebut tergolong perbuatan menyakiti orang lain karena subyek perbuatan tersebut telah menyakiti orang lain dengan perbuatannya dengan memaksa dan menggiring orang lain untuk berbuat maksiat. Seseorang yang mewariskan perbuatan jelek, maka ia akan mendapat dosa dari mewariskan perbuatan jelek tersebut dan dosa dari orang-orang yang mengikutinya dalam berbuat jelek hingga hari kiamat. Selain termasuk menyakiti diri dan orang lain, subyek dari perbuatan tersebut juga telah merusak harga diri, menyakiti keluarga, menanggung cibiran masyarakat, dan lainnya akibat perbuatannya tersebut.

(Peringatan)

Mencoreng kehormatan seseorang itu lebih berat dari mengambil harta orang lain. Ulama berkata, “jika seseorang mengambil harta sesamanya dan lalu ia menahan diri dari meminta halalnya hingga pemilik harta tersebut meninggal. Bahkan jika ia meminta halalnya dari ahli warisnya atau bahkan seluruh manusia di muka bumi ini, niscaya ketika pemilik harta tersebut belum menghalalkannya maka tidak ada yang mampu mengkompensasinya. Karena kehormatan seorang mukmin itu lebih tinggi dari hartanya.

Syaikh Abu al-Mawahib al-Syadzily ra. berkata, “salah satu hal yang menahan seorang murid dari mencapai maqam yang tinggi adalah mengghibah sesama muslim. Seseorang yang diuji oleh Allah SWT dengan hal tersebut maka bacalah surat al-Fatihah, al-Ikhlas, dan Mu’awidzatain dan niatkan pahala dari bacaan tersebut untuk orang yang kita ghibahi. Karena sesungguhnya Aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan mengajariku hal tersebut.” Beliau Syaikh Abu al-Mawahib al-Syadzily ra. juga berkata, “sesungguhnya ghibah dan pahala dari bacaan tersebut akan dihadapkan kepada Allah SWT, dan Aku berdoa agar keduanya dihitung, bukan hanya dosa ghibahnya saja.”

Ketahuilah hal tersebut saudaraku.


Comments

Leave a Reply