Ngaji Kitab Minahus Saniyah (Bagian 19)

367 views

Wasiat kedua belas dari Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly adalah “jangan tinggalkan sholat jama’ah, seperti halnya qiyamul lail.” Kaum sufi berkata, “tidak berkumpul sebuah jama’ah kecuali didalamnya terdapat seorang wali yang Allah menerima syafaatnya untuk teman-temannya.

Disebutkan dalam Shohih Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya “seorang lelaki buta mendatangi Nabi SAW lalu berkata, ‘Duhai Rasul, Aku tidak memiliki seorangpun yang dapat menuntunku menuju masjid. Apakah ada rukhsah bagiku untuk sholat di rumah?’ Lalu Nabi SAW memberikan rukhsah baginya. Namun ketika baru saja lelaki itu berpaling dari Nabi SAW, beliau Nabi SAW bertanya, ‘apakah dirimu mampu mendengar panggilan sholat?’ Lelaki itu menjawab, ‘iya duhai Rasul.’ Kemudian Nabi SAW berkata, ‘maka jawablah panggilan sholat tersebut.’”

Ulama salaf menganggap tersilapnya mereka dari sholat jama’ah adalah sebuah musibah. Pernah pada satu waktu seorang ulama salaf berangkat menuju kebun kurmanya dan ketika ia kembali dari kebun kurmanya, orang-orang telah selesai dari melaksanakan sholat jama’ah Ashar. Lalu ulama salaf ini berkata, “sesungguhnya semuanya adalah milik Allah SWT, Aku telah terlambat dari melaksanakan sholat jama’ah. Maka saksikanlah kalian semua, sesungguhnya seluruh hasil kebun kurmaku akan Aku shodaqohkan kepada orang-orang miskin.”

Pada satu waktu, Abdullah b Umar ra. terlambat dari melaksanakan sholat Isya berjama’ah. Lalu beliau Abdullah b Umar ra. melaksanakan sholat semalam penuh sebagai penebus akan keterlambatannya dalam melaksanakan sholat Isya dengan berjama’ah.

Diceritakan dari Ubaidillah b Umar al-Qowariri ra. bahwa ia berkata, “Aku tak pernah sekalipun terlambat dari melaksanakan sholat jama’ah hingga pada satu waktu Aku menerima tamu dan Aku sangat tersibukkan untuk hurmat pada tamu tersebut dan melewatkan sholat Isya di masjid. Lalu Aku keluar mencari sebuah masjid yang belum melaksanakan sholat Isya berjama’ah, dan ternyata seluruh masjid telah melaksanakan sholat Isya berjama’ah, bahkan pintu-pintu masjidnya telah banyak terkunci. Lalu Aku kembali ke rumah dengan rasa prihatin yang sangat karena telah melewatkan sholat jama’ah. Lalu Aku berkata, ‘niscaya terdapat hadits yang mengatakan bahwa sesungguhnya sholat jama’ah itu 27 derajat lebih utama dari sholat sendiri.’ Lalu Aku melaksanakan sholat Isya sebanyak 27 kali, dan lalu Aku tertidur. Dalam tidur Aku bermimpi Aku menaiki seekor kuda bersama rombongan berkuda lainnya yang ada didepanku. Dan lalu Aku melecut kudaku agar bisa menyusul mereka, namun sia-sia. Lalu salah satu dari mereka menoleh kepadaku dan berkata, ‘dirimu hanya melelahkan kudamu saja, niscaya dirimu tak akan mampu menyusul kami. Lalu Aku berkata, ‘kenapa seperti itu?’ Ia menjawab, ‘kami sholat Isya dengan berjama’ah, sedang dirimu hanya sholat sendirian.’ Lalu Aku terbangun dengan prihatin dan sesal yang mendalam.

Sebagian ulama salaf berkata, “tidak terlewatkan sholat jama’ah kecuali dia telah melakukan dosa.” Kaum sufi akan bertakziah selama tujuh hari pada salah satu diantara mereka yang telah melewatkan sholat jama’ah. Sebagian mengatakan bukan karena dia telah melewatkan sholat jama’ah, namun hanya melewatkan satu roka’at. Dan mereka akan bertakziyah selama tiga hari pada salah satu diantara mereka yang terlambat melakukan takbiratul ihrom bersama imam.

Ketahuilah hal tersebut saudaraku.  


Comments

Leave a Reply