Meneladani Rasulullah Saw., Dalam Bertetangga (Edisi Ketiga Akhlak Bertetangga)

375 views

Oleh Moh. Makmun

Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan terkait larangan menyakiti tetangga dan anjuran berbuat baik. Dalam edisi kali ini kita akan membincangkan terkait kisah teladan dari Rasulullah Saw., dalam bertetangga.

Sebuah kisah dari Abdullah bin ‘Amr al-Ash:

أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه

“Sesungguhnya ia menyembelih seekor kambing. Kemudian ia berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: Apakah engkau akan hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?.’ Aku mendengar Rasulullah Saw., bersabda, “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, sehingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris.” (Hr. al Bukhari dalam al Adabul Mufrad 78/105)
Redaksi hadis yang lain berbunyi:


أخرج البخاري في كتاب الأدب حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya”

Kisah lainnya, suatu ketika, Abu Hurairah kelaparan dan kebetulan Rasulullah Saw., lewat di depannya. Kemudian Rasulullah meminta Abu Hurairah untuk mengikutinya. Sesampai di suatu tempat, Abu Hurairah mendapati ada susu setempayan. Ia berfikir jika susu tersebut untuk dirinya, namun apa dikata ternyata Rasulullah justru menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil ahli shuffah (sahabat Nabi Saw., yang termasuk kategori ekonomi lemah dan tinggal di serambi masjid Nabawi). Kita ketahui bersama, bahwa rumah Rasulullah menyatu dengan Masjid Nabawi.

Pada saat ahli shuffah datang, Rasulullah langsung menyuruh mereka untuk meminum susu tersebut. Satu per satu ahli shuffah meminumnya, setelah semuanya meminum, akhirnya Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk meminum sisa susu tersebut. Dan Rasulullah pun juga meminum susu sisa ahli shuffah tersebut.

Rasulullah Saw., adalah seorang pribadi luhur yang sangat perhatian dengan tetangganya. Apakah tetangganya sudah makan atau belum. Rasulullah tidak membiarkan dirinya kenyang sendiri sementara tetangganya dalam keadaan kelaparan. Hal ini terekam dalam hadis beliau:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائْعٌ إِلٰى جَنْبِهِ

“Tidaklah mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya.” (Hr. Bukhari dalam al-Adab Al-Mufrad:112).

Redaksi yang lain berbunyi:

وقال صلى الله عليه وسلم ما امن بي من با ت شبعان وجاره جائع الى جنبه وهو يعلم

Rasulullah Saw., bersabda: “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui”.

Dan masih banyak lagi kisah Rasulullah Saw., dalam bertetangga yang seharusnya kita semua meniru akhlak beliau.

Bagaimana dengan kita, apakah akhlak kita dengan tetangga sudah meniru Rasulullah Saw.,?

Nantikan episode selanjutnya yang akan mengisahkan akhlak sahabat dan ulama terhadap tetangga.


Comments

Leave a Reply