Kisah Teladan Ulama dalam Bertetangga (Edisi Kelima, Akhlak Bertetangga)

761 views

Oleh Moh. Makmun

Edisi kali ini akan mengisahkan betapa luhurnya pekerti Ulama dalam mengaplikasikan ajaran Islam. Aplikasi tersebut dapat dilihat dari akhlak keseharian, termasuk akhlak bertetangga.

Kisah pertama, adalah Abu Hanifah yang bertetangga dengan seorang tukang sepatu dengan tabiat kurang baik.

Beberapa kisah menyebutkan bahwa tetangga Abu Hanifah tersebut memiliki kebiasaan buruk. Siang hari, ia bekerja dan malam harinya biasa ia gunakan untuk minum-minuman keras sambil bernyanyi tak karuan ataupun ngomel ngelantur dengan keras (efek mabuk). Sementara itu, setiap malam sudah menjadi kebiasaan Abu Hanifah melaksanakan ibadah seperti tahajud, berdzikir, berdoa dan sebagainya.

Melihat tingkah tetangganya tersebut, Abu Hanifah tidak lantas menegur, mengolok atau mencacinya, justru malah untaian doa ia panjatkan kepada Allah agar tetangganya tersebut diberi ampunan, dan diberi ptunjuk ke jalan yang benar.

Suatu ketika, Abu Hanifah tidak mendengar lagi suara nyanyian atau berisiknya tetangganya. ia pun keheranan dan bertanya kepada istri tetangganya itu. Ternyata istri tetangganya tersebut sedang sakit dan tidak tau suaminya ada dimana. Akhirnya Abu Hanifah meminta muridnya yang bernama Abu Yusuf untuk mencari informasi keberadaan tetangganya tersebut. Pencarian akhirnya membuahkan hasil, ternyata tetangga tersebut ditangkap petugas keamanan karena mabuk.

Abu Hanifah mengajak Abu Yusuf menghadap gubernur Kuffah bernama Isa bin Musa, ia hendak meminta pengampunan untuk lelaki itu. Abu Yusuf pun keheranan, sebab beberapa kali Gubernur mengundang Abu Hanifah tapi gurunya tak pernag hadir. Namun hanya gegara tetangga yang notabene pemabuk, gurunya rela menemui Gubernur. Keheranan Abu Yusuf tak hanya itu saja. Ia semakin heran tatkala Abu Hanifah mengatakan bahwa tetangga yang gemar mabuk itu menolong dirinya. Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa tetangganya itu bernyanyi sepanjang malam tanpa mengaharapkan balasan dari Allah atau manusia. Hal itu membuat Abu Hanifah berfikir bahwa sudah seharusnya ia tidak merasa berat untuk bangun tengah malam karena dirinya mengharap balasan dari Allah.

Akhirnya Abu Hanifah dan Abu Yusuf menghadap gubernur Kuffah, dan mereka disambut dengan penuh penghormatan. Abu Hanifah kemudian mengutarakan maksud kedatangannya agar tetangganya diberi ampunan dan dibebaskan dari penjara oleh Gubernur. Tanpa banyak tanya, Gubernur Isa bin Musa pun segera memerintahkan pada petugas untuk melepaskan lelaki pemabuk itu.

Setelah keluar dari penjara, tetangga tersebut menangis dihadapan Abu Hanifah dan berkata,”Wahai Imam Abu Hanifah, katakan apa yang harus aku lakukan?” Abu Hanifah menjawab, ”kau harus berjihad di jalan Allah”. Lelaki itu berkata, ”Aku akan berjihad dijalan Allah dan akan mati sebagai syuhada”. Kemudian Abu Hanifah bertanya lagi.” Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu.? Lelaki itu berkata, “Aku memilih berjihad di jalan Allah.” Abu Hanifah berkata, “untukmu berjihad adalah mengurus istri dan anak-anakmu”.

Kisah kedua adalah akhlak Hasan al-Bashri, seorang ulama besar dan tokoh tasawuf dalam bertetangga.

Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mengisahkan bagaimana akhlak luhur Hasan al-Bashri terhadap tetangganya yang beragama Nasrani.

Dikisahkan bahwa Hasan al-Bashri memiliki tetangga yang beragama Nasrani. Tetangga tersebut memiliki kamar kecil (toilet) di atap rumahnya. Selang beberapa lapa, ternyata atap rumah Hasan al-Bashri terkena rembesan air toilet tersebut.
Hasan al-Bashri meletakkan wadah untuk menampung air rembesan toilet tersebut. Setiap malam ia keluar rumah untuk membuang air rembesan yang ada di wadah tersebut karena sudah penuh. Hal ini ia lakukan selama 20 tahun lamanya.

Suatu ketika Hasan al-Bashri jatuh sakit dan tetangganya yang beragama Nasrani tersebut menjenguknya. Ketika berada dalam rumah Hasan al-Bashri, tetangga yang Nasrani tersebut melihat ada rembesan air yang menetes dari atas. Ia pun bertanya kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id (panggilan Hasan al-Bashri), sudah berapa lama kau menanggung kesusahan dariku ini?” Hasan al-Bashri pun menjawab: “Sudah dua puluh tahun.”

Mengetahui hal tersebut, akhirnya tetangga yang beragama Nasrani itu memotong ikat pinggangnya dan memeluk Islam.

Betapa sabar beliau berdua dalam menghadapi tetangga. Mampukah kita bersabar dan berbuat baik kepada tetangga?
Nantikan edisi selanjutnya terkait definisi tetangga dan kriteria tetangga.


Comments

Leave a Reply