Kisah Teladan Dalam Bertetangga (Edisi Keempat, Akhlak Bertetangga)

574 views

Oleh Moh. Makmun

Edisi kali ini kita akan mengisahkan akhlak sebagian sahabat dan ulama dalam bertetangga. Kisah singkat dan sedikit ini dipilih karena jika semuanya dikisahkan tentunya tidak cukup dan bisa saja menjadi satu buku tersendiri.

Kisah pertama adalah sahabat nabi Muhammad Saw., bernama Abu Dujanah. Ia sahabat Nabi Saw., yang taat beribadah, taat shalat berjama’ah meskipun kondisi ekonominya lemah.

Sebuah kisah menjelaskan, setiap selesai salat Shubuh berjama’ah bersama Nabi Saw., Abu Dujanah selalu pulang duluan tanpa menunggu doa Nabi Muhammad. Hal ini membuat penasaran Nabi Saw., sehingga beliau mengklarifikasi pada Abu Dujanah.

Nabi Saw., menanyakan pada Abu Dujanah, “Wahai Abu Dujanah, apakah kamu tidak punya permintaan kamu mohonkan kepada Allah, sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu terburu-buru pulang, ada apa?”.

Abu Dujanah pun memberikan alasannya, “Begini Rasulullah, rumah kami berdampingan dengan rumah seseorang. Di halaman rumahnya ini terdapat pohon kurma yang menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut berjatuhan di rumah kami.”

“Ya Rasulallah, kami ini termasuk keluarga kurang mampu. Anak-anak kami sering kelaparan. Saya takut saat mereka bangun, apa pun yang didapat akan di makan. Oleh sebab itulah saya selalu pulang duluan tanpa menunggu doa Rasulullah Saw. Agar sebelum anak-anak terbangun, saya dapat mengumpulkan kurma yang berjatuhan lalu saya kembalikan pada pemilik pohon. Pernah suatu waktu, saya terlambat pulang karena menunggu selesainya Nabi Saw., berdoa, sesampai di rumah, anak saya telah bangun dan terlanjur makan kurma rontokan yang ditemukannya. Saya melihat dengan kepala saya sendiri, ia mengunyah kurma basah yang ia pungut. Akhirnya saya pun merogoh mulut anak saya dan mengeluarkan sisa kurma yang ada di mulutnya. Dan saya berkata kepada anak saya, ‘Nak, janganlah kamu permalukan ayahmu ini di akhirat nanti. Ayah lebih suka kamu mati kelaparan daripada hidup dengan memakan barang haram’.” Anak saya pun menangis karena kelaparan.

Mendengar jawaban Abu Dujanah tersebut, Rasulullah Saw., dan para sahabat meneteskan air mata. Akhirnya beliau dan beberapa sahabat pergi mendatangi pemilik pohon kurma tetangga Abu Dujanah.

Rasulullah menawar pohon kurma tersebut dengan 10 kali lipat. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik menawan sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada. Namun pemilik pohon kurma menolak dengan tegas.

Akhirnya Abu Bakar maju melakukan penawaran, pohon kurmanya dibeli dengan sepuluh kali lipat dari kurma terbaik yang ada di Madinah. dan pemilik pohon kurma tersebut menyetujuinya.

Kisah kedua, seorang bernama Muwaffaq yang tidak berhaji namun memiliki pahala berhaji.
Sebuah kisah disebutkan, Abdullah bin Al-Mubarak seorang ulama dan ahli zuhud serta perawi hadits sedang melaksanakan haji. Suatu malam, ia tertidur di Masjidil Haram dan bermimpi mendengar pembicaraan dua malaikat. Satu Malaikat bertanya jumlah kaum muslim yang berhaji, malaikat lainnya menjawab bahwa jumlah yang berhaji ada 600 orang. Satu Malaikat bertanya lagi, “Berapa orang dari 600 orang tersebut yang ibadahnya diterima oleh Allah?”. Malaikat lain menjawab, “Hanya satu orang yang hajinya diterima, yaitu Muwaffaq, seorang tukang sepatu dari Damsyik. Sebenarnya Muwaffaq tidak berhaji tetapi diterima ibadah hajinya. Akhirnya, ibadah haji ke-600 ratus orang itu juga diterima karena berkah dari hajinya Muwaffaq.”

Setelah terbangun, Abdullah bin Al-Mubarak bergegas ke Damsyik mencari seseorang bernama Muwaffaq. Saat bertemu dengannya, ia bertanya tentang amal saleh yang dilakukannya. Akhirnya Muwaffaq bercerita, bahwa ia memperoleh uang sebanyak 300 dirham secara tiba-tiba. Rencanaya ia gunakan untuk haji. Saat itu, istri Muwaffaq sedang hamil. Suatu ketika, istrinya mencium aroma masakan sedap dari tetangganya. Dan sang istri pun pingin makanan tersebut. Akhirnya Muwaffaq menemui tetangganya.

Tetangganya adalah janda yang memiliki anak dengan kondisi ekonomi lemah. Saat sampai di rumah tetangganya, ia mengemukakan maksudnya. Tetangganya menjawab, “Bila demikian maksud kedatanganmu, aku harus membuka rahasiaku. Sesungguhnya, aku dan tiga anakku sudah tidak makan selama tiga hari. Aku mencari makanan dan ternyata hanya menemukan bangkai keledai. Bangkai keledai itu sebagian aku potong dan aku bawa pulang. Aku memasaknya untuk anak-anakku. Oleh karena itu, makanan itu halal untuk kami, namun haram untukmu.”

Mendengar kisah tetangganya tersebut, Muwaffaq tersentuh hatinya, kemudian ia menyerahkan uang 300 dirham pada tetangganya tersebut. Meskipun uang tersebut rencananya dipakai untuk berhaji.

Masih banyak lagi kisah-kisah teladan dari sahabat Nabi Saw., dan ulama dalam kehidupan mereka bertetangga. Mereka tidak pernah mau menyakiti tetangganya dan senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita meneladani mereka dan suatu saat perbuatan kita akan menjadi teladan bagi anak cucu kita.

Nantikan kajian akhlak bertetangga di edisi selanjutnya.


Comments

Leave a Reply