Keutamaan Membaca Alquran

433 views

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., beliau mendengar Nabi Muhammad SAW berkata, “seseorang yang berharap bertemu Allah SWT, maka muliakanlah keluarga-Nya.”

Sahabat bertanya, “duhai Rasul, apakah Allah SWT memiliki keluarga?”

Nabi SAW menjawab, “Iya.”

“Siapa mereka duhai Rasul,” kejar sahabat.

Nabi SAW menjawab, “keluarga Allah SWT di dunia adalah orang-orang yang membaca Alquran. Ketahuilah, siapa yang memuliakan mereka maka mereka telah memuliakan Allah SWT dan Allah SWT akan memberi mereka surga. Siapa yang menghinakan mereka maka mereka telah menghinakan Allah SWT dan Allah SWT akan memasukkan mereka ke neraka. Duhai Abu Hurairah, tidak ada yang lebih dimuliakan oleh Allah SWT selain penghapal Alquran. Ketahuilah, penghapal Alquran di sisi Allah SWT itu lebih mulia dari siapapun, kecuali Nabi.”

Diriwayatkan dari Anas b Malik ra. dari Nabi Muhammad SAW.

Nabi SAW pada suatu hari berkata, “apakah kalian ingin tahu siapa umatku yang paling utama di hari kiamat?”

“Tentu ya Rasulullah,” jawab sahabat.

“Orang yang bisa membaca Alquran. Ketika hari kiamat, Allah SWT akan berkata, ‘hai Jibril. Panggil dari manusia-manusia yang berada di padang mahsyar. Siapa diantara mereka yang bisa membaca Alquran, suruh mereka untuk berdiri.’

Malaikat Jibril memanggil-manggil mereka. Sekali, dua kali, hingga mereka yang dapat membaca Alquran membentuk barisan-barisan di hadapan Allah Dzat yang Rahman. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, hingga kemudian Nabi Daud as. berdiri. Allah SWT kemudian berkata, ‘bacalah Alquran dan keraskan suara kalian.’

Lalu mereka membaca Alquran sesuai dengan apa yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada mereka. Setiap orang yang membaca, diangkat derajatnya oleh Allah SWT berdasar keindahan suara, cara membaca, kekhusyu’an, bagaimana dia mantadaburi dan merefleksikannya.

Allah SWT berkata, ‘duhai keluargaku. Apakah kalian tahu siapa yang pernah berbuat baik kepada kalian di dunia?’

‘Kami tahu siapa mereka, wahai Tuhanku,’ jawab mereka.

Allah SWT berkata, ‘pergilah kalian ke Padang Mahsyar. Niscaya setiap manusia yang kalian kenali akan masuk ke surga Bersama kalian.'”[i]

Bagi yang jomblo, carilah pasangan yang mampu membaca Alquran dan sedekat mungkin dengan Nabi SAW dalam hal berakhlaq dengan akhlaq Alquran[ii]. Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, dekatkanlah mereka dengan Alquran sejak dini sehingga mereka berakhlaq dengan akhlaq Alquran dan dapat menjadi penyambung amal kita setelah kita meninggal. “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” Menariknya, hadits riwayat Abu Hurairah ini, ketiga-tiganya dapat terepresentasikan pada anak.

Ketika kita memberi anak kita uang, baik secara langsung maupun melalui ibunya, lalu uang tersebut ia buat jajan, makan, atau bahkan membayar iuran ngaji di TPQ dan institusi pendidikan lainnya, maka pada titik ini uang tersebut telah menjadi shodaqoh jariyah. Tentu dengan syarat uang ini tetap bergerak, pergerakannya di atas rel syariat, dan tidak menafikan bahwa konsep shodaqoh jariyah yang paling deras pahalanya adalah shodaqoh pada masjid atau untuk kemashlahatan umum lainnya.

Ketika kita mengajari anak kita membaca Alquran dan anak kita mengingatnya, mengamalkannya dalam setiap bacaan Alqurannya, dan bahkan mengajarkannya pada adiknya, atau bahkan murid-muridnya kelak, maka ini akan dicatat sebagai amal kita yang pahalanya terus mengalir kepada kita meski kita telah meninggal.

Apalagi ketika dengan berkah shodaqoh kita yang berupa membiayai pendidikannya ketika di TPQ, pesantren, dan institusi Pendidikan lainnya, juga ketelatenan kita untuk tetap menemani dia membaca Alquran, praktik wudlu, sholat, dan moment apapun yang hadir dihidupnya sehingga di ujung dia menjadi anak yang sholih-sholihah yang mau mendoakan orangtuanya, maka pencapaian ini juga dianggap sebagai amal kita.

Semoga kita semua didekatkan dengan Alquran, orang-orang yang dekat dengan Alquran, dan dianugrahi amal yang tak terputuskan bahkan ketika kematian telah menjelang.   


[i] Utsman b Hasan b Ahmad al-Syakir al-Khubuwi. Durrotun Nashihin: 182.

[ii] “Akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)


Comments

Leave a Reply