Gus Atho Ajak IPNU Teladani KH. Bisri Syansuri

342 views

SURABAYA – Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi PW IPNU Jawa Timur menggelar acara Diklat Khusus (Diksus) di STIKES Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Sabtu (7/12/2019). Acara yang diikuti oleh peserta perwakilan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU se Korda Metropolis (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang), itu berkonsep pada penguatan literasi terkait tokoh-tokoh NU.

Acara yang digelar sejak Jumat-Minggu, 6 s/d 8 Desember 2019 itu, dimaksudkan agar aktivis IPNU IPPNU di Perguruan Tinggi mampu memberi solusi atas problem dilingkungan kampus, maupun masyarakat secara luas dengan memetik keteladanan dari sisi kehidupan maupun pemikiran tokoh-tokoh NU, yang sudah secara nyata berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Founder Gerakan Santri Milenial, Gus Ahmad Athoillah, menjadi salah satu narasumber acara tersebut. Dalam acara itu, Gus Atho menyampaikan materi tentang Khazanah Pemikiran dan Teladan Perjuangan KH. Bisri Syansuri. 

Kata Gus Atho, sedikitnya ada tiga karakter melekat pada diri KH. Bishri Syansuri. Yaitu sebagai perintis kesetaraan gender dalam pendidikan di pesantren, seorang ahli dan pecinta fiqh, dan sekaligus seorang politisi. “Mbah Bisri itu terkenal tegas dalam berfiqh,” saat mengawali penyampaian materinya.

Tak hanya itu, KH. Bisri Syansuri juga dikenal ketawadluannya kepada KH. Wahab Chasbullah yang merupakan kakak iparnya. Mbah Bisri, sapaan akrabnya, menolak sebagai Rois Aam PBNU, meski dia terpilih pada Muktamar NU di Bandung. Alasan Mbah Bisri menolak, karena masih ada Mbah Wahab.

“Namun Mbah Bisri bersedia menjadi Rois Aam PBNU ketika Mbah Wahab Chasbullah telah tiada. Nah, generasi penerus Nahdlatul Ulama (NU) meneladani sosok KH. Bisri. Apalagi ketika kita masih berproses di IPNU,” kata cucu Mbah Bisri itu.

Dalam kesempatan itu, Gus Atho juga berbicara terkait kiprah Mbah Bisri di bidang politik yang kala itu bersinggungan dengan politik pragtis. Saat itu, Mbah Bisri bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, menjadi anggota Dewan Konstituante. “Puncaknya ketika Mbah Bisri dipercaya menjadi Ketua Majelis Syuro PPP, yang waktu itu NU secara formal tergabung dalam partai berlambang ka’bah tersebut,” ujarnya.

Berbagai prestasi pun ditorehkan Mbah Bisri. Salah satunya yang paling membanggakan adalah disahkannya UU perkawinan hasil rancangan Mbah Bisri bersama-sama ulama NU. Padahal sebelumnya pemerintah sudah membuat rancangan undang-undang perkawinan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). “Pada Pemilu 1971, Mbah Bisri menjadi anggota DPR RI dari non NU. Jabatan itu dipegangnya hingga beliau wafat,” Gus Atho.

Mbah Bisri juga merupakan sosok pendiri pertama pesantren, untuk menerima para santri perempuan. Ulama besar sekaligus pejuang dan pendiri NU, yang merupakan kakek dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, itu didaulat menerima penghargaan Pahlawan Santri dalam Penganugerahan Santri of The Year 2017.

Gus Atho menilai Mbah Bisri layak mendapat gelar Pahlawan Nasional, mengingat kontribusi Mbah Bisri terhadap bangsa ini cukup banyak. “Kemaren para Alumni mengurus gelar kepahlawanan Mbah Bisri Syansuri, Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Chasbullah sudah, sekarang giliran Mbah Bisri, saya minta doanya kepada rekan-rekan semua agar dalam pengurusan gelar Kepahlawanan Nasional Mbah Bisri diberi kelancaran, sehingga tanggal 10 November 2020, Mbah Bisri sudah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional,” kata Athoillah.(Noe)

Sumber: kabarjatim.com


Comments

Leave a Reply