First Step

496 views

#serikepemimpinan1

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan ditanyai akan kepemimpinan kalian.” Dawuh Nabi Muhammad SAW ini jelas. Setiap diri adalah pemimpin. Entah sebagai suami, istri, kakak, senior dalam sebuah organisasi, dan lain sebagainya, kita adalah pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Dan kita akan ditanyai akan kepemimpinan kita. Dimintai pertanggungjawaban akan bagaimana cara kita memimpin dan efek dari kepemimpinan kita.

Paling tidak ada tiga hal yang harus kita lakukan ketika kita sudah menyadari akan kewajiban untuk memimpin ini dan berkeinginan untuk melaksanakan kepemimpinan ini sebaik-baiknya: positioning, visioning, dan changing perspective.

Positioning

Hal pertama yang harus dipahami ketika pertama kali memimpin adalah eksistensi, apakah organisasi yang kalian pimpin eksistensinya sudah ada sebelum kalian atau tidak. Kalau yang kalian pimpin adalah sebuah organisasi yang baru didirikan yang belum memiliki visi, misi, tujuan, dan lainnya yang menjadi standard penopang eksistensi sebuah organisasi, maka kalian harus menerjemahkan ini dari awal.

Kalian harus merangkai pengetahuan dan informasi dari organisasi sejenis, kumpulan orang-orang yang bersepakat untuk mendirikan organisasi ini, menghitung kemungkinan-kemungkinan terbaik, dan lain sebagainya sehingga menjadi sesuatu yang otentik yang menjadi pembeda antara organisasi yang kalian pimpin dengan organisasi lain yang similar.

Namun apabila organisasi yang kalian pimpin ini adalah organisasi yang sudah ada sebelumnya, maka kalian perlu memahami apapun yang sudah dilakukan oleh sebelum kalian. Paling tidak pertanyaan-pertanyaan mendasar semisal; “apa yang menjadi kegiatan rutin organisasi?”, “kenapa memilih untuk melakukan itu?”, “apa yang menjadi target dari kepemimpinan sebelumnya?”, “apa yang sudah dilakukan dan yang belum bisa dilakukan?”, dst.

Model organisasi yang kedua ini juga berlaku bagi seorang menantu yang mencoba beradaptasi dengan keluarga mertuanya, mahasiswa baru yang mencoba membangun standar pencapaian akademik dan non akademiknya, juga yang lain.

Kata kuncinya positioning. Kalian harus memahami posisi kalian dalam sebuah organisasi dimana kalian berada. Tanpa pemahaman ini, maka apapun yang kalian lakukan kemungkinan besar salah. Ungkapan semisal “kenapa sih koq Aku salah terus dimatanya?”, “kenapa sih mertuaku itu sukanya ngrasani Aku”, “sebenarnya Aku harus bagaimana sih?, dan sebagainya adalah salah satu bentuk ketidak clear-an positioning di awal.

Semakin kalian tidak memahami posisi kalian, maka kalian tidak memiliki pondasi yang kuat yang mampu menopang apapun yang akan kalian lakukan selanjutnya. Bukankah ketika pondasi bangunan itu lemah maka tidak ada bangunan yang mampu berdiri diatasnya?

Visioning

Ketika sudah clear positioning kalian, maka kalian sudah boleh bermimpi. Dengan pengetahuan dan informasi yang kalian dapatkan ketika positioning dan membandingkannya dengan potensi diri kalian sendiri maka akan muncul yang bisa kalian lakukan dan apa yang sepertinya berat atau tidak cocok untuk kalian lakukan.

Untuk hal yang sepertinya bisa kalian lakukan dari hal yang sudah pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, maka minimal tetapkan atau kalau bisa tingkatkan. Agar terlihat jelas apa perbedaan dari kepemimpinan kalian dengan kepemimpinan sebelumnya.

Untuk hal yang sepertinya bisa kalian lakukan tapi belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, maka pastikan hal ini bisa dilakukan dengan sumber daya yang ada. Karena terkadang pemimpin memilih untuk tidak melakukan sesuatu, meski sebenarnya bisa dan sangat mungkin untuk dilakukan, namun tidak dilakukannya karena banyak faktor. Faktor ini yang perlu kalian pahami.

Untuk hal yang sepertinya berat untuk kalian lakukan, maka carikan orang yang bisa kalian pegang dan percaya untuk melakukan. Jika tidak ada, simpan keinginan di tempat yang setiap saat bisa kalian raih ketika kalian di suatu waktu di masa depan kalian menemukan orang yang tepat. Konsepsi yang sama berlaku untuk jodoh. Dan dalam melakukan ini, kesabaran menjadi kunci.

Untuk hal yang kalian rasa tidak cocok untuk dilakukan, maka tinggalkan. Atau ketika itu sudah membudaya dalam organisasi, maka kurangi sedikit demi sedikit hingga potensi keberadaannya di masa depan menjadi hilang. Cocok dan tidak cocok ini biasanya ditimbang dari dua hal: merusak-tidaknya pada gambaran pencapaian yang kalian impikan terjadi di masa depan, atau keadaan yang masih belum mengakomodir perubahan.

Apapun visimu, pastikan antara apa yang kalian inginkan untuk dicapai di masa depan dan apa yang ada disekitarmu sekarang itu tidak ada jurang pemisah yang terlalu jauh. Ketika apa yang kalian impikan dan apa yang ada di organisasi sekarang terdapat jurang pemisah yang terlalu lebar dan terjal, maka minimalisir gap ini. Tetap catat impianmu di sebuah tempat yang bisa kapanpun kalian baca atau ingat, dan sampaikan impianmu ini pada yang lain sehingga pada satu waktu di masa depan apa yang kalian impikan bisa terealisisasi.

Changing Perspective

Apa yang kalian impikan memiliki konsekuensi. Tidak bermimpi juga memiliki konsekuensi. Tetapkan! Apa kalian bermimpi atau tidak. Kalau saya akan memilih untuk tetap bermimpi. Konsekuensinya, saya harus merubah diri, merubah cara pandang saya, sehingga apa yang saya impikan terjadi.

Semisal kalian ingin organisasi kalian di kenal di platform You Tube, sebelumnya kalian hanya fous di Web dan giat offline. Maka kalian butuh tim khusus untuk fokus di You Tube. Karena You Tube dan Web itu memiliki perspektif yang berbeda, memiliki cara pandang yang berbeda. Perbedaan cara pandang berimplikasi pada perbedaan cara mengeksekusi dan perbedaan perumusan tujuan. Intinya, hampir semuanya berbeda maka butuh treatment yang berbeda pula. Jangan memaksakan cara pandang yang sama dan cara berpikir yang sama untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan hasil yang berbeda pula.

Impian memiliki konsekuensi, dan konsekuensi itu menuntut kita dan orang yang ada di bawah kita untuk menerima dan menjalankan dengan baik konsekuensi tersebut. Bagaimana agar mereka mau dan mampu menjalankan konsekuensi itu dengan semestinya maka itulah parameter pencapaian seorang pemimpin.    


Comments

Leave a Reply