COCOTE TONGGO(Edisi Kesatu, Akhlak Bertetangga)

1,013 views
Kang Makmun memberikan ceramah dalam pengajian Ibu-ibu

Oleh Moh. Makmun

Sak Ganas-Ganase Virus Corona, Isih Ganasan Virus Cocote Tonggo (Seganas-Ganasnya Virus Corona, Masih Lebih Ganas Virus Omongannya Tetangga)
Sak Pedes-Pedese Lombok, Isih Kalah Pedes Karo Cocote Tonggo (Sepedas-Pedasnya Cabai, Masih Kalah Pedas Dengan Omongannya Tetangga)
Sak Panas-Panase Geni, Isih Kalah Panas Karo Cocote Tonggo (Sepanas-Panasnya Api, Masih Kalah Panas dengan Omongannya Tetangga)
Sak Abot-Abote Gunung, Isih Abotan Cocote Tonggo (Seberat-Beratnya Gunung, Masih Beratan Omongannya Tetangga)

Cocote Tonggo (Omongannya Tetangga), ya sebuah kalimat yang akhir-akhir ini menghiasi status Media Sosial. Hal ini menjadi sebuah fenomena tersendiri yang menunjukkan bahwa banyak pribadi-pribadi yang merasa terusik dan risih dengan pembicaraan bin nyinyiran tetangga. Tentu saja dinamakan nyinyiran karena yang dibicarakan adalah hal-hal yang menyakiti orang lain dalam hal ini tetangganya.

Padahal sebagai manusia sosial yang bermasyarakat dan bertetangga, ada beberapa aturan dan etika yang berhubungan tetangga, salah satunya adalah larangan menyakiti tetangga.

Banyak sekali hadis yang melarang seseorang menyakiti tetangga, antara lain:

أخرج أحمد في باب من مسند القبائل 25909: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجَارُ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَوَائِقُهُ قَالَ شَرُّهُ
Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw., bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Rasul, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” Dan apa itu gangguan? Di Jawab, yaitu keburukannya (sifat buruk).

Rasulullah Saw., ketika mengulang-ulang kata qasam (sumpah), menandakan bahwa perbuatan tersebut sangat penting, entah harus dilakukan atau harus dihindari. Dalam kaitannya dengan hadis tersebut berarti bahwa kita semua dilarang membuat tetangga kita terganggu dengan sifat buruk kita. Entah sifat buruk dari lisan seperti menghina, nyinyir, menggunjing dan sejenisnya, maupun dari perbuatan kita seperti mencuri, dan perbuatan jahat lainnya.

Jika hadis di atas menganggap orang yang membuat tetangganya tidak aman masuk kategori tidak beriman, hadis berikut ini justru menyebutkan bahwa orang yang membuat tetangganya tidak aman tidak masuk surga.
أخرج المسلم في كتاب الإيمان 66: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Dari Abi Hurairah sesungguhnya Rasulullah Saw., bersabda, “Tidak masuk surga siapa saja yang (menyebabkan) tetangganya (merasa) tidak aman dari gangguannya.

Kata بوائقه bentuk jamak dari kata بائقة -ba’ dan qaf- berarti: bencana, pencurian, kejahatan, hal-hal yang membahayakan, serta hal-hal yang menjadi pelampiasan kebenciannya.

Tidak hanya dua hadis tersebut, ternyata masih ada juga hadis yang menguatkan hadis di atas, yaitu:
أخرج البخاري في كتاب الأدب 5559حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw., bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Nah yang terakhir ini, di akhir hadis ada kalimat “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” Sebagai muslim yang baik, mari kita tunjukkan akhlak kita kepada tetangga kita. Siapapun tetangga kita, baik muslim maupun non muslim, kita punya kewajiban untuk menghormati mereka dan tidak menyakiti mereka.

Ada sebuah jargon di kalangan “maling” bahwa “Ndablek-ndablek o, tapi ojo ndablek nang desomu (nakal-nakallah, tapi jangan nakal / menyakiti orang-orang yang ada di desa sendiri”.

Jangan pernah menyakiti tetangga. Jika tetangga suka nyinyir, maka abaikan saja selama kita tidak mengganggu dan tidak menyakiti mereka. Berprinsiplah bahwa orang lain yang suka mengganggu kita, nanti amal kebaikannya akan diberikan kepada kita yang tersakiti, andaikan mereka tidak punya amal kebaikan, maka dosa kita orang tersakiti akan diberikan kepada orang yang menyakiti kita.

So, Gak usah Ngurusi Cocote Tonggo dan Gak Usah Baper dengan Cocote Tonggo.

Nantikan edisi akhlak bertetangga selanjutnya.


Comments

Leave a Reply