Biologi, Mitra Sejati Fisika

444 views

— Karena Manusia adalah Khalifah Allah di Planet Bumi

Sejak dipelopori oleh Ibrāhīm (אַבְרָהָם atau إبراهيم), manusia adalah spesies yang selalu ingin tahu. Macam-macam hal yang ingin diketahui manusia. Mulai dari kebahagiaan mantan pacar, asal usul kelahiran dirinya, hingga tata kelola alam raya. Dulu Ibrahim sering mengamati angkasa seraya bertanya dalam sukma, kira-kira sejenis demikian, “Bagaimana alam rasa bisa teratur?” maupun “Mengapa semua ini diciptakan?”

Jawaban, baik berupa hipotesis maupun kesimpulan, membuat Ibrahim mencetuskan kerangka berpikir bahwa benda yang tidak dapat mengelola alam raya tak pantas dipuja. Kerangka berpikir berdasarkan pengamatan tersebut membuat Ibrahim harus terlibat konfrontasi dengan Namrūd (ܢܡܪܘܕ‎ atau النمرود‎). Ketika keduanya terlibat percekcokan lisan, Ibrahim hanya mengeluarkan logika saja untuk meladeninya, tanpa perlu repot-repot mengajak Namrūd melakukan pengamatan terhadap angkasa.

Pertanyaan sejenis Ibrahim mulai menemui jalan menjawabnya secara memuaskan seiring keberhasilan Thales membangun literasi ilmiah masyarakat Ionia. Thales laiknya penerus Ibrahim dalam hal ingin tahu alam raya. Keberhasilan memprediksi gerhana bulan menjadi jalan untuk menunjukkan bahwa alam dapat dimengerti. Banyak orang kemudian merasa tertantang dan senang menikam jejak Thales untuk menyumbangkan pengetahuan tentang alam. Alam dalam bahasa Yunani disebut phýsis (φύσις), sementara pengetahuan tentang alam disebut physikḗ (φυσική).

Karena mulai dipelajari dengan rapi dan rinci secara berkelanjutan, physikḗ berkembang menjadi dispilin akademik tersendiri yang di Indonesia kini disebut fisika. Sebagai disiplin akademik, cakupan fisika sangat luas dengan batasan yang tak jelas. Cakupannya ialah materi dan energi di alam raya, sementara batasannya ialah terikat ruang dan waktu.

Saat ini, entah nanti, diketahui bahwa materi terkecil alam ialah neutrino, partikel dasar yang dianggap tidak memiliki lebar dan massanya sebesar ≤ 0.120 eV/c2 (setara dengan 213,919 ×10−36 kg atau 1 dibagi 213 dibagi 1 desiliun kilogram; 1 desiliun = 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 = angka dengan jumlah nol 33). Sedangkan benda terbesar ialah VY Canis Majoris, bintang yang radiusnya sebesar 1,420±120 R☉ (setara dengan 1 × 1012 m atau 1 trilliun meter) dan massanya sebesar 17±8 M☉ (setara dengan 3.400 × 1033 kg atau tiga ribu empat ratus desiliun kilo gram). Batasannya? Sejauh yang diketahui sampai saat ini, seluruh materi dan energi, menempati ruang dan terkait dengan waktu. Tidak jelas bukan?

Karena luasnya itulah fisika mendapat sebutan sebagai Rajanya Ilmu (the king of sciences). Tak jelas asal usul sebutan ini, kapan waktunya, siapa orangnya, bagaimana keadannya, mengapa diungkapkan, dan satu set pertanyaan lainnya. Namun, yang jelas selama ini manusia telah mengerti bahwa king butuh pasangan yang disebut queen. Selama ini pula ketika fisika disebut sebagai the king of sciences, serta merta memunculkan matematika sebagai the queen of sciences. Kalau yang kedua ini jelas jluntrungannya, gara-gara Johann Carl Friedrich Gauß (Gauss), fisikawan asal Jerman.

Terus terang saya tersinggung dengan ungkapan Johann Carl Friedrich Gauß (Gauss), fisikawan asal Jerman, yang menyebut bahwa Matematika adalah Ratunya Ilmu. Gauss punya peran dalam linikala perkembangan Matematika, juga Fisika. Ungkapan itu sendiri bisa dimaklumi sebagai cara Gauss mengapresiasi kelindan erat antara Matematika dan Fisika laiknya queen dan king. Terlebih lagi dalam membahas topik Matematika, Gauss banyak dibantu oleh Marie-Sophie Germain, fisikawati asal Prancis. Siapa tahu kalau arti queen ialah Marie-Sophie dan Gauss membayangkan dirinya sebagai king?

Dulu ketersinggungan ini muncul gara-gara Pak Sutrisno, guru Fisika Dasar saya ketika kuliah di UPI, yang mengungkap bahwa Matematika lebih tepat disebut sebagai Pembantu Fisika (the servant of the physics). Ungkapan itu dilandasi dengan dasar kebenaran fungsional Matematika ditentukan oleh pengujian nalar manusia (proof), bukan pembuktian keadaan alam raya (evidence). Perlu diingat catatan el clásico antara Pak Sutrisno dengan Bu Roswati Mudjiarto (Bu Atik) yang terbangun sejak 1975 barangkali berpengaruh. Kalau Pak Sutrisno akrab dengan Fisika Dasar, Bu Atik sejak 1972 selalu mengajar Matematika sampai sekarang seperti el clásico antar keduanya.

Ungkapan Pak Sutrisno lebih saya sukai ketimbang Gauss.[i] Alasannya karena saya sering tertatih-tatih ketika belajar Matematika. Apalagi ungkapan Pak Sutrisno itu selaras dengan tuturan dari Richard Phillips Feynman, fisikawan asal Amerika Serikat. Karena keabsahan Matematika bukan melalui eksperimen, Feynman tidak memasukkan Matematika ke dalam himpunan ilmu alam, seraya mengapresiasi hubungan luar biasa antar keduanya. Hubungan bukan sekadar queen dan king saja ‘kan? Servant dan king juga termasuk hubungan ‘kan? Feynman juga menegaskan kalau suatu hal bukan ilmu alam, tidak selamanya jelek maupun salah, cuma tidak termasuk gitu aja, misalnya cinta. Nah, karena itu, sebutan Matematika sebagai Ratunya Ilmu kudu disirnakan. Disirnakan dulu, menentukan penggantinya entar. Dar’u al-mafasid dulu, jalbu al-masholih-nya nanti saja. Takholli dulu, jangan buru-buru tajalli. Sabar. Allah senantiasa bersama makhluknya yang sabar, kayak Matahari berotasi terhadap pusat Galaksi Bima Sakti gitu, sabar banget.


[i] Hubungan genealogi keilmuan Pak Sutrisno dengan Gauss sebagai berikut (tanda ‘—‘ menunjukkan muridnya): Sutrisno — Pantur Silaban — Peter Gabriel Bergmann — Albert Einstein — Otto Stern — Otto Robert Frisch — Peter Pringsheim — Ernest Fox Nichols — Edward Leamington Nichols — Johann Benedikt Listing — Johann Carl Friedrich Gauß


Comments

Leave a Reply