Allah dimana, Mah?

1,044 views
Hasyim Ahmad Dliyaulhaq

“Syim, Hasyim kalau ngomong ae mulut e disobek sama Allah,” kata Ummah pada anaknya, Hasyim, yang berusia 3 tahun. Usia ketika sudah mulai banyak katalog kata yang ia miliki dan ingin ia ungkapkan, yang seringnya menguji kesabaran.

“Allah dimana Mah?” Ummah tersentak. Dari ragam pilihan 5W 1H (What, When, Who, Where, Why, dan How), Hasyim menuntut penjelasan dalam bentuk pertanyaan yang diawali dengan where, deskripsi akan tempat, deskripsi akan keberadaan Allah. Sebuah pertanyaan yang dari perspektif Tauhid sangat tidak patut untuk diungkapkan.

“Mah, Allah dimana Mah?” Ummah terdiam. Otaknya dipaksa bekerja melebihi keadaan normalnya, namun belum juga menghasilkan jawaban yang mampu dicerna oleh anak seusia Hasyim.

“Kenapa gak tanya ‘Allah itu siapa?’ atau ‘kenapa koq mulut e Hasyim disobek sama Allah?’ tapi malah nanyain ‘Allah dimana Mah?’ Pertanyaan ini muncul darimana?” alih-alih kerja otak difokuskan untuk menjawab where, Ummah malah mengerahkan effort kognitifnya pada how, pada bagaimana pertanyaan itu muncul.

“Mah, Ummah ditanyai diem ae,” kembali Hasyim menuntut penjelasan. Ia tidak akan berhenti hingga ia terpuaskan, atau bosan.

“Sebentar Syim, Ummah ini masih mikir,” Ummah menjawab dengan tak yakin seolah pikirannya sedang tidak di tempat.

“Ah, Ummah ditanyai diem ae. Ya wes, Hasyim tak main ae,” tukas Hasyim sambil berlalu keluar kamar.

Aku tertawa nguwakak mendengar cerita dari Ummahnya ini. Bagaimana Hasyim memunculkan pertanyaan yang tak terduga dan, yang paling lucu, bagaimana Ummah yang alumni universitas negeri ternama di Surabaya ini tergagap dan tak mampu berkata apa-apa.

“Kalau Buya ditanya gitu njawab e gimana?” Ummah bertanya penasaran dan Aku tertawa nguwakak, ini bentuk pertahanan diri paling efektif yang Aku punya to buy some time. Aku perlu waktu untuk berpikir tanpa hening, tanpa terlihat berpikir.

Sayyidina ‘Ali b Abi Thalib berkata, “Allah ada dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang pada keadaan sebagaimana adanya; yang azali dan tak bertempat.”[i] Beliau juga berkata, “sesungguhnya menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaanNya, tidak untuk menjadi tempat bagi DzatNya.”[ii]

Al-Imam ‘Ali Zainal ’Abidin b Husain b ‘Ali b Abi Thalib berkata, “Engkau wahai Allah yang tidak diliputi tempat.”[iii] Beliau juga berkata, “Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran.”[iv]

Al-Imam Ja’far al-Shodiq b Muhammad al-Baqir b ‘Ali Zainal ‘Abidin b Husain berkata, “barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baru, Dia makhluq.”[v]

Mudahnya, setiap entitas di dunia ini berada pada ruang dan waktu. Mereka bertempat, yang didalamnya terikat oleh ruang dan waktu. Allah adalah pencipta ruang dan waktu, Allah adalah pencipta tempat. Meski Allah menciptakan keduanya: ruang dan waktu, namun Allah tidak membutuhkannya. Allah tidak berada pada sebuah konteks ‘tempat’ yang didalamnya berlaku rumus ruang dan waktu. Jadi kesimpulannya, Allah tidak membutuhkan tempat dan bertanya Allah ada dimana, yang menuntut jawaban berupa penyebutan tempat, adalah sangat tidak tepat dan muncul dari ketidaktahuan akan kaidah dasar Aqidah Islam, Allah tidak menyerupai sesuatupun. Dari penjelasan dalam paragraf ini yang diawali dengan kata “mudahnya”, bukanlah sebuah penjelasan yang mudah bagi sebagian kita, apalagi untuk usia 3 tahun.

“Lho, ditanyain koq ketawa,” kejar Ummah kepadaku. Dan Aku tertawa lebih keras lagi dan lalu berkata, “kalau Buya ya gak bakal muncul pertanyaan gitu dari Hasyim. Karena dari awal Buya tidak akan terjebak dalam situasi seperti itu. Situasi yang muncul hanya karena ucapane Ummah “Hasyim kalau ngomong ae mulut e disobek sama Allah”. Ketidakmampuan mengukur kemungkinan respon yang muncul dari penyataan kita ya itu kesalahan. Dan Buya tidak akan terjebak dalam kesalahan mendasar seperti itu.” Aku menjawabnya dengan macak bijak dan seolah menguasai keadaan. Meski dalam hati paling pinggir, Aku belum menemukan formula yang tepat, sebuah jawaban yang benar dalam perspektif Aqidah dan bisa dipahami oleh anak seusia Hasyim. Ya apapun itu, mondok dan ngaji yang serius itu memang tak tergantikan.


[i] Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Mansur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, H.333.

[ii] Ibid.

[iii] Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla al-Zabidi dalam Ithaf al-Sadah al-Mutaqin bi Syarh Ihya Ulumiddin, J.4, H.380.

[iv] Ibid.

[v] Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyah, H.35.


Comments

Leave a Reply